Menko Polkam RI, Djamari Chaniago, saat silaturrahim ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (14/2/2026).
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (14/2/2026). Kehadiran Menko Polkam disambut hangat oleh pengasuh pondok pesantren, Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, M.A., bersama Bupati Mojokerto, Muhammad Albarra.
Pertemuan yang berlangsung di Istana Gedung Putih, Kembangbelor ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Kiai Asep menegaskan komitmennya untuk membawa Kabupaten Mojokerto menjadi daerah yang maju, adil, dan makmur. Ia menekankan bahwa Mojokerto memiliki modal historis yang kuat sebagai pusat Kerajaan Majapahit.
"Presiden Prabowo telah mewakafkan dirinya untuk negara ini. Kita harus malu dan harus bekerja untuk Mojokerto tercinta, selayaknya menjadikannya percontohan, karena di Mojokerto ini pernah ada kerajaan besar, yaitu Majapahit," jelas Kiai Asep.
Namun, Kiai Asep juga memberikan catatan kritis terkait kondisi ekonomi nasional. Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, angka kemiskinan dinilai masih memprihatinkan.
Ia pun berharap hal itu bisa diperbaiki dari tingkat kabupaten, salah satunya Mojokerto di bawah kepemimpinan Bupati Albarra.
"Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto menjadi tertinggi di Jawa Timur," tegasnya.
Sementara Menko Polkam Djamari Chaniago memberikan apresiasi khusus kepada Kabupaten Mojokerto. Ia menyebutkan bahwa Mojokerto adalah kabupaten pertama yang mengundangnya secara resmi sejak menjabat.
"Rasanya belum ada kabupaten yang mengajak saya untuk hadir ke kabupatennya, baru Kabupaten Mojokerto. Itu yang saya ingin cari dan temukan, yang akan saya laporkan kepada Presiden," ungkap Menko Polkam.
Selain memuji kondusivitas wilayah, Menko Polkam mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong atau hoaks yang beredar di media digital. Belajar dari insiden pembakaran di masa lalu, ia meminta masyarakat menyampaikan aspirasi melalui jalur yang benar.
"Demo tidak dilarang, tapi jangan sambil membakar, pakai bom molotov, atau menyerang petugas. Itu dilarang sama sekali. Jika ada keluhan, datanglah ke Bupati, Dewan, Kapolres, Danramil, atau Babinsa. Jangan langsung percaya berita bohong yang menyatakan bupati korupsi tanpa bukti," terangnya.
Mengingat topografi Mojokerto yang didominasi perbukitan, Menko Polkam menitipkan pesan penting mengenai mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan. Ia berkaca pada bencana besar yang pernah melanda daerah lain di Indonesia.
"Bencana alam bisa menimpa kapan saja. Jangan menyakiti alam agar alam tidak menyakiti kita," pesannya.
Ia mendorong warga untuk aktif melapor jika menemukan aktivitas yang merusak lingkungan. "Kalau kita menyayangi alam, alam akan menyayangi kita. Sumber mata air akan tetap ada dan tanah akan terhindar dari longsor," pungkas Menko Polkam. (ris/rev)








