Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi
Oleh Aguk Irawan MN
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Di sebuah dunia yang semakin bising oleh algoritma dan kecerdasan buatan, kita sering kali mendambakan sebuah sauh. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), sauh itu biasanya berbentuk sosok kiai—sebuah perpaduan antara otoritas langit dan kerendahhatian bumi. Namun, ketika kita menatap masa depan, pertanyaannya bergeser: Kiai seperti apa yang mampu menjawab kegelisahan zaman yang terus berlari?
BACA JUGA:
- PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Calon Rais 'Aam PBNU
- Forum Rais Syuriyah PCNU se-Jatim Sampaikan 5 Rekomendasi ke PBNU
- Antre Sedekah Kiai Asep, Ratusan Orang Datang Sejak Pukul 3 Malam di Siwalankerto Surabaya
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
Mungkin jawabannya tersirat dalam gerak-gerik Kiai Asep Saifuddin Chalim. Beliau bukan sekadar pengasuh pesantren yang duduk diam merapal doa, melainkan seorang arsitek peradaban yang memahami bahwa "sarung" harus tetap dipakai saat kita mengoperasikan teknologi tercanggih sekalipun.
Dalam pandangan filsafat eksistensial, terutama Jean-Paul Sartre, manusia adalah proyek yang terus-menerus membangun dirinya sendiri. Kiai Asep tampaknya memahami ini secara mendalam. Visi SDM-nya bukan sekadar mencetak "pekerja", melainkan manusia yang utuh (al-insan al-kamil).
Visi pendidikan Kiai Asep di Amanatul Ummah bertumpu pada beberapa pilar yang sangat relevan untuk masa depan NU yaitu melampaui dikotomi Ilmu. Beliau menghapus garis tegas antara "ilmu agama" dan "ilmu umum". Dalam kacamata beliau, membedah fisika kuantum adalah bentuk tasbih, sebagaimana membaca Fathul Mu’in. Ini adalah pembebasan eksistensial agar kader NU tidak merasa asing di laboratorium maupun di masjid.
Kemudian adalah kemandirian (Istiqlal): Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan (izzah) hanya bisa dicapai melalui kemandirian ekonomi. Pendidikan bukan untuk mencari kerja, tapi untuk menciptakan nilai. Serta, kedisiplinan spiritual. Ritual malam dan wirid bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya memperkuat "otot rohani" agar tidak lumat oleh materialisme global.
Kiai Asep tidak meninggalkan akar. Beliau berpegang pada kaidah fikih yang sangat akrab di telinga warga Nahdliyin:
Al-muhafadzatu ‘ala qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.)
Namun, di tangan beliau, kaidah ini menjadi hidup. Beliau merujuk pada konsep "Himmah" (semangat yang melampaui batas) dalam kitab-kitab akhlak seperti Ta’limul Muta’allim. Bagi beliau, seorang santri harus memiliki cita-cita yang menggantung di bintang-bintang namun kaki tetap berpijak di lumpur penderitaan rakyat.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




