Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi
Oleh Aguk Irawan MN
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Di sebuah dunia yang semakin bising oleh algoritma dan kecerdasan buatan, kita sering kali mendambakan sebuah sauh. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), sauh itu biasanya berbentuk sosok kiai—sebuah perpaduan antara otoritas langit dan kerendahhatian bumi. Namun, ketika kita menatap masa depan, pertanyaannya bergeser: Kiai seperti apa yang mampu menjawab kegelisahan zaman yang terus berlari?
Mungkin jawabannya tersirat dalam gerak-gerik Kiai Asep Saifuddin Chalim. Beliau bukan sekadar pengasuh pesantren yang duduk diam merapal doa, melainkan seorang arsitek peradaban yang memahami bahwa "sarung" harus tetap dipakai saat kita mengoperasikan teknologi tercanggih sekalipun.
Dalam pandangan filsafat eksistensial, terutama Jean-Paul Sartre, manusia adalah proyek yang terus-menerus membangun dirinya sendiri. Kiai Asep tampaknya memahami ini secara mendalam. Visi SDM-nya bukan sekadar mencetak "pekerja", melainkan manusia yang utuh (al-insan al-kamil).
Visi pendidikan Kiai Asep di Amanatul Ummah bertumpu pada beberapa pilar yang sangat relevan untuk masa depan NU yaitu melampaui dikotomi Ilmu. Beliau menghapus garis tegas antara "ilmu agama" dan "ilmu umum". Dalam kacamata beliau, membedah fisika kuantum adalah bentuk tasbih, sebagaimana membaca Fathul Mu’in. Ini adalah pembebasan eksistensial agar kader NU tidak merasa asing di laboratorium maupun di masjid.
Kemudian adalah kemandirian (Istiqlal): Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan (izzah) hanya bisa dicapai melalui kemandirian ekonomi. Pendidikan bukan untuk mencari kerja, tapi untuk menciptakan nilai. Serta, kedisiplinan spiritual. Ritual malam dan wirid bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya memperkuat "otot rohani" agar tidak lumat oleh materialisme global.
Kiai Asep tidak meninggalkan akar. Beliau berpegang pada kaidah fikih yang sangat akrab di telinga warga Nahdliyin:
Al-muhafadzatu ‘ala qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.)
Namun, di tangan beliau, kaidah ini menjadi hidup. Beliau merujuk pada konsep "Himmah" (semangat yang melampaui batas) dalam kitab-kitab akhlak seperti Ta’limul Muta’allim. Bagi beliau, seorang santri harus memiliki cita-cita yang menggantung di bintang-bintang namun kaki tetap berpijak di lumpur penderitaan rakyat.
Secara filosofis, ini adalah bentuk Praksis. Seperti kata Karl Marx, para filosof hanya menafsirkan dunia, namun intinya adalah mengubahnya. Kiai Asep tidak hanya "menafsirkan" kitab kuning, beliau menerjemahkannya menjadi ruang-ruang kelas, beasiswa internasional, dan jejaring ekonomi yang nyata.
Jika NU ingin tetap relevan di tahun 2045, ia membutuhkan figur yang memiliki karakter seperti Kiai Asep.
Memahami manajemen modern tanpa kehilangan aroma kemenyan dan doa.
Literasi Global: Santri tidak boleh hanya jago berdebat di forum Bahtsul Masa’il, tapi juga harus mampu bernegosiasi di forum PBB atau Silicon Valley.
Ketahanan Mental. Dalam dunia yang penuh dengan depresi dan krisis identitas, model pendidikan Kiai Asep yang menekankan kedekatan dengan Sang Khalik menjadi penawar bagi kegersangan eksistensial.
Simpulan: Menjadi Subjek Sejarah
Jadi, apa yang dilakukan Kiai Asep adalah sebuah pemberontakan terhadap rasa rendah diri. Beliau membuktikan bahwa pesantren bukan museum masa lalu, melainkan laboratorium masa depan.
Mungkin, kita menyadari bahwa masa depan NU bukan terletak pada besarnya jumlah pengikut, melainkan pada kualitas individu-individu yang lahir dari rahim pendidikan yang memerdekakan. Kiai Asep telah memulai tenunan itu. Sekarang, tinggal bagaimana kita meneruskannya—dengan benang yang lebih kuat dan pola yang lebih berani. Wallahu'alam bishawab.
*Pengasuh Pesantren Kreatif Biatul Kilmah Yogyakarta








