Ungkap Resolusi Jihad, Menko Polkam Djamari Sebut Jasa Ulama NU Besar dalam Pertahankan Kemerdekaan

Ungkap Resolusi Jihad, Menko Polkam Djamari Sebut Jasa Ulama NU Besar dalam Pertahankan Kemerdekaan Menko PolkamJenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago saat menyampaikan pidato dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kiai dan Santri Nasional (JKSN) dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Sabtu (14/2/2026). Foto: MMA/bangsaonline

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengingatkan bahwa agama dan nasionalisme bukan dua kutub yang bertentangan tapi justeru saling menguatkan. Menurut dia, ulama-ulama pesantren sangat besar jasanya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia sehingga banyak sekali kiai NU yang mendapat gelar pahlawan nasional.

Mantan Pangkorstrad itu memberi contoh perjuangan Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah atau organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan juga pendiri Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Menurut dia, ketika Jepang menjajah bangsa kita kalah perang dan menyerah kepada tentara sekutu, Belanda mau memanfaatkan situasi itu untuk menjajah kembali tanah air.

“Kota Surabaya menjadi target kekerasan tentara Belanda sehingga masyarakat resah, tensi memanas dan terjadi kekacauan,” ujar Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago saat menyampaikan pidato dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kiai dan Santri Nasional (JKSN) dan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Sabtu (14/2/2026).

“Kiai Hasyim Asy’ari selaku pimpinan NU menerima banyak laporan situasi itu dari para santri,” tambah mantan Pangdam III/Siliwangi Jawa Barat itu.

Maka, pada 21 Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan pimpinan NU se-Jawa dan Madura di Kota Surabaya.

“Disepakati untuk mengeluarkan sebuah fatwa yang dikenal sebagai Resolusi Jihad fi Sabilillah,” tegas Jenderal Djamari.

Sambil menunjukkan berita-berita surat kabar tahun 1945-an – diantaranya koran Kedaulatan Rakjat – yang memberitakan Resolusi Jihad dari Hadratussyaikh di slid layar lebar, jenderal bintang empat itu mengatakan bahwa isi Resolusi Jihad itu adalah mewajibkan seluruh umat Islam untuk bangkit, ikut serta secara aktif membela dan mempertahankan tegaknya negara Indonesia dari ancaman penjajah.

Menurut Djamari, fatwa Resolusi Jihad fi Sabilillah itu disebarluaskan.

“Kalangan santri mulai berhimpun dan mengonsolidasikan diri bersama dengan pejuang RI,” tegas Jenderal Djamari.

“10 November 1945 pecah perang terbuka berskala luas. Pasukan Sekutu membombardir Kota Surabaya, dari darat, laur dan udara,” tambah Djamari Chaniado yang mengaku sebagai menteri paling tua di kabinet Presiden Prabowo Subianto. Djamari sekarang berusia 77 tahun. Ia lahir di Medan Sumatera Barat pada 8 April 1949.

Menurut dia, tercatat 15.000 pejuang Indonesia, termasuk para santri telah, meninggal secara syahid menjadi korban pertempuran.

“20.000 pejuang lainnya luka-luka,” ungkap Jenderal Djamari Chaniago.

Data-data yang diungkap Menko Polkam Jenderal Djamari itu hampir sama dengan pidato Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. Dengan mengutip berita The New York Times, koran terkemuka Amerika Serikat, Kiai Asep menyatakan bahwa sebanyak 30.000 mayat bergelimpangan di sungai Kali Mas Jembatan Merah Surabaya sebagai korban pertempuran 10 November 1945.

Menurut Kiai Asep, dalam perang itu jenderal andalan Inggris juga mati terbunuh. Yaitu Brigadir Aubertin Mallaby. Ia seorang perwira Angkatan Darat India Britania.

Kiai Asep mengungkapkan bahwa pertempuran 10 November 1945 pecah karena Belanda mau merampas kembali kedaulatan Indonesia.

“Jadi hampir saja kemerdekaan Indonesia lepas,” ujarnya.

Menurut Kiai Asep, semula Bung Karno dan Bung Hatta tak setuju dengan perlawanan fisik terhadap tentara Inggris yang diboncengi Belanda itu. Alasannya, karena kekuatan senjata kita kalah jauh dan khawatir banyak korban di pihak bangsa Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta lebih suka diplomasi dan mengadakan pernjanjian.
Tapi kalau lewat diplomasi dan perjanjian kita kalah terus karena Belanda yang punya bedil,” ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.

“Hadratussyaikh memilih clash fisik sehingga terjadi pertempuran 10 November,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta kemudian menyetujui pilihan Hadratussyaikh.

Menurut Kiai Asep, saat itu Bung Tomo dan Jenderal Soedirman terus berkonsultasi dengan Hadratussyaikh. Tiga pahlawan nasional itu memiliki pemikiran yang sama yaitu melawan agresi Inggris dan Belanda dengan cara perang.

“Bung Tomo tanya kepada Kiai Hasyim Asy’ari, kapan kita menyerang. Kiai Hasyim Asy’ari menjawab tunggu kedatangan Kiai Abbas bin Abdul Jamil dari Cirebon,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa Kiai Abbas adalah pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon.

Pada 9 November 1945 Kiai Abbas datang di Pesantren Tebuireng Jombang. Kiai Abbas memutuskan menyerang pada 10 November 1945 pagi hari. Alumnus Pesantren Tebuireng itu kemudian naik kereta api Eskpres berangkat ke Surabaya pada pagi hari.

“Kiai Abbas menyerang ketika tentara Inggris dan Belanda sudah masuk ke tengah Kota Surabaya,” tutur Kiai Asep. Otomatis mereka terkepung. Sehingga – meski banyak korban – tapi bangsa Indonesia menang dalam perang melawan Inggris dan Belanda itu.

Dalam acara itu hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto DardakBupati Mojokerto Dr H Muhammad Al Barra (Gus Bara),  dan tokoh lainnya.