Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi (lima dari kiri) saat mengawal ekspor beras nusantara. (Ist)
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) memfasilitasi ekspor perdana beras nusantara sebanyak 2.280 ton ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia tahun 2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengatakan langkah bersejarah ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem logistik haji berbasis produk pangan nasional.
BACA JUGA:
- Garuda Serahkan 49 Koper Cadangan ke Daker Bandara untuk Ganti Milik Jemaah yang Rusak
- Kemenhaj Tegaskan Larangan Jemaah Haji Ikut Ziarah dan City Tour Sebelum Puncak Armuzna
- Inilah 8 Inovasi Kemenhaj dalam Pelaksanaan Haji 2026 Baik dalam Negeri maupun Luar Negeri
- Kemenhaj Pastikan Layanan Haji Aman dan Nyaman
Ekspor dilaksanakan oleh Perum Bulog sebagai pelaksana teknis, berdasarkan hasil keputusan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Keputusan Badan pangan Nasional (Bapanas), volume ekspor disesuaikan dengan jumlah jemaah haji Indonesia tahun ini yang mencapai sekitar 205.420 mencakup jemaah haji reguler dan petugas.
Jaenal Efendi menilai, ekspor ini sebagai langkah strategis dalam memastikan ketersediaan konsumsi jemaah haji berbasis produk dalam negeri, sekaligus sebagai sarana promosi beras Indonesia di pasar internasional.
Ia juga menegaskan bahwa ekspor perdana beras untuk jemaah haji ini merupakan terobosan penting dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi jemaah berbasis produk nasional.
“Ini menjadi pecah telur setelah bertahun-tahun penantian agar beras Indonesia dapat digunakan untuk konsumsi jemaah haji di Arab Saudi,” ujarnya saat melepas ekspor beras di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, melaporkan beras yang diekspor merupakan beras baru hasil panen dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang diproses langsung tanpa melalui stok gudang lama. Proses pengolahan dilakukan di empat fasilitas, yakni pabrik Wilmar di Serang dan Mojokerto, serta pabrik Bulog di Karawang dan Subang.






