Dzuriyah Hasan Gipo Sebut Muktamar ke-35 NU Simbol Ajakan Pulang ke Muassis

Ringkasan Berita
  • Muktamar NU ke-35 di Pesantren Tambakberas dinilai sebagai simbol ajakan untuk kembali pada nilai-nilai warisan para muassis (pendiri) NU, menandai masuknya NU ke Abad Kedua (2026-2126). Muktamar ini diharapkan mewujudkan teladan tulus melayani umat tanpa mencari popularitas atau jabatan.
  • Hasan Gipo (Hasan Basri), Ketua Umum PBNU pertama (1926-1934) yang mendampingi KH Hasyim Asy'ari, ditampilkan sebagai teladan utama: berkhidmah tulus pada NU dan ulama, tidak mencari penghidupan atau dukungan politik dari organisasi, serta hidup dengan sikap khumul (rendah hati) dan nyaris tak tersorot publik.
  • Muktamar ke-35 diharapkan dapat menengok kembali peran NU di Abad Pertama sebagai 'Pendiri Bangsa' agar di Abad Kedua dapat berperan sebagai 'Penjaga Peradaban Bangsa'. Lokasi di Tambakberas dinilai tepat untuk mengingatkan pada akar dan semangat awal berorganisasi.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA) yang merupakan Dzurriyah H Hasan Gipo (Ketua Umum PBNU pertama) H Abd Wachid Zen menilai Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus 2026, merupakan simbol ajakan pulang (kembali) pada nilai-nilai warisan muassis/pendiri untuk Abad Kedua NU.

“Sebagai ketua Yayasan IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin), kami sangat berharap Muktamar ke-35 NU nanti  betul-betul mewujudkan nilai-nilai organisasi yang diwariskan para muassis, termasuk H Hasan Gipo. Jadi, muktamar kali ini ibarat pulang pada nilai-nilai warisan muassis atau kembali pada teladan muassis,” ujar Wachid Zen di Surabaya, Rabu (19/8/2026).

Zen yang juga Ketua II Pengurus Takmir Masjid Agung Sunan Ampel itu  menjelaskan bahwa Muktamar ke-35 NU merupakan muktamar pertama di Abad Kedua NU (2026-2126). Menurut dia, muktamar kali ini perlu menengok peran atau kiprah NU di Abad Pertama sebagai Pendiri Bangsa agar NU di Abad Kedua menjadi Penjaga Peradaban Bangsa.

Untuk itu, tegas dia, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU perlu merujuk pada teladan para muassis dalam ber-NU, seperti H Hasan Gipo saat menjadi Ketua Umum PBNU yang mendampingi KHM Hasyim Asy’ari selama 9 tahun (1926-1934) dengan satu niat yakni khidmah atau fokus dalam ngopeni (melayani) jamaah (masyarakat), apalagi lokasi muktamar di Tambakberas.

“H. Hasan Gipo sebagai petinggi PBNU itu betul-betul berkhidmah ke NU dan ulama. Beliau tidak sulit ditemui jamaah dan tidak mencari penghidupan di NU, apalagi niat mencari  dukungan agar bisa duduk di pemerintahan. Beliau adalah teladan ketulusan, khumul, dan tidak mencari popularitas. Beliau adalah tokoh NU yang nyaris tak tersorot dan tidak viral, bahkan situs makamnya di sisi timur Masjid Ampel pun baru terlacak pada 2020-2021,” katanya.

Nama lengkap dari Hasan Gipo adalah Hasan Basri. Ia lahir di Kampung Sawahan Ampel Surabaya pada tahun 1869, tepatnya di kawasan Jalan Ampel Masjid. Dia  berasal dari keluarga besar Sagipoddin (Gipo) sehingga nama tersebut disematkan di belakang namannya menjadi Hasan Gipo.