BANDUNG, BANGSAONLINE.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya membatalkan acara pengumpulan 11 Syuriah NU dan 11 Bupati di Gedung Sate Kota Bandung, Rabu (19/8/2026). Pembatalan itu diketahui dari pesan lewat WhatsApp (WA) yang dikirim kader NU ke BANGSAONLINE. Pesan pembatalan acara itu sekarang beredar di mesia sosial.
“Assalamualaikum Wr. Wb. Izin Bapak/Ibu. Informasi untuk Acara Pertemuan Gubernur dengan Bupati/Wali Kota dan Syuriah NU Kabupaten Kota, Rabu, 19 Agustus 2026,Pukul 16 WIB, DIBATALKAN. Hatur nuhun,” tulis pesan pembatalan itu, Rabu (19/8/2026).
“WA dari protokoler Gub KDM,” ujar seorang kader NU kepada BANGSAONLINE, Rabu (19/8/2026).
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Rabu (19/8/2026), beredar surat undangan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kepada para Syuriah NU Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Undangan sang gubernur ini mengagetkan para kiai dan kader NU karena undangan itu dilakukan menjelang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur yang akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Apalagi undangan Gubernur Dedi Mulyadi itu “satu paket” dengan undangan terhadap bupati/wali kota di Jawa Barat.
Ada 11 Syuriah NU dan 11 bupati/wali kota yang diundang oleh Dedi Mulyadi yang dijadwalkan pada 19 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB hingga selesai. Tempatnya di ruang tamu gubernur di Gedung Sate Kota Bandung.
Dalam undangan itu tertera 11 Syuriah NU dan 11 bupati/wali kota yang diundang. Yaitu Syuriah NU Bandung dan Bupati Bandung, Syuriah NU Ciamis dan Bupati Ciamis, Syuriah NU Garut dan Bupati Garut, Syuriah NU Indramayu dan Bupati Indramayu, Syuriah NU Majelangka dan Bupati Majalengka.
Selanjutnya Syuriah NU Pengandaran dan Bupati Pangandaran, Syuriah NU Subang dan Bupati Subang, Syuriah NU Sukabumi dan Bupati Sukabumi, Syuriah NU Kota Banjar dan wali kota Banjar, Syuriah NU Kota Cimahi dan wali kota Cimahi dan Syuriah NU Kota Sukabumi dan wali kota Sukabumi.
Langkah Gubernur Dedi Mulyadi itu disayangkan para kader NU. Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat Dr Saepulloh menilai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah melampau kepantasan sebagai seorang kepala daerah.
Menurut dia, keterlibatan pemerintah daerah dalam momentum Muktamar NU dinilai berpotensi menimbulkan persepsi adanya intervensi terhadap urusan internal organisasi. Karena itu Saepulloh minta Dedi Mulyadi menjelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi publik bahwa pemerintah daerah sedang mencoba masuk terlalu jauh ke dalam dinamika internal Muktamar NU.
“Kalau pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi arah pilihan, sikap, atau dinamika Muktamar NU, maka tindakan seperti itu tidak etis dan tidak beradab dalam kehidupan organisasi,” ujar Saepulloh kepada BANGSAONLINE, Rabu (19/8/2026).
Menurut Kang Ipul – panggilan akrabnya - pemerintah memang memiliki ruang untuk membangun komunikasi dan kemitraan dengan organisasi keagamaan. Namun, komunikasi kelembagaan harus dibedakan secara tegas dari intervensi terhadap proses internal organisasi.
“NU bukan organisasi pemerintah. NU memiliki mekanisme, AD/ART, tradisi dan kedaulatan organisasi sendiri. Karena itu, siapa pun gubernurnya harus menghormati batas tersebut,” tegas Kang Ipul.










