Awas! Uang Risywah itu Berasal dari Narkoba, Judi Online dan AIPAC

JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Tak ada uang halal untuk pertaruhan kekuasaan. Baik untuk perebutan kepala daerah, pemilihan presiden dan bahkan juga pemilihan ketua partai politik dan organisasi.

“Semua bohir politik mengandalkan uang haram. Baik itu dari judi maupun narkoba atau sumber-sumber illegal lainnya yang semuanya uang haram,” ujar sumber BANGSAONLINE, Jumat (21/8/2026).

Bohir adalah orang atau lembaga yang memberikan sokongan finansial atau dana untuk calon ketua dalam pertarungan politik, baik dalam pilkada, pilpres, pemilihan ketua parpol dan organisasi.

“Yang perlu dipahami bahwa bohir atau pemodal untuk calon atau kandidat dalam pertarungan politik itu biasanya seorang pengusaha hitam,” jelasnya lagi.

Ia mempersilakan masyarakat mencermati para bohir. "Mereka biasanya pemilik kasino, terutama di luar negeri. Seperti pernah dilaporkan Tempo, ada tokoh politik Indonesia disinyalir punya kasino atau rumah judi di Kamboja," ujarnya.

Bahkan, menurut dia, banyak oknum aparat dan alat negara terlibat. Terutama untuk penyaluran uang haram itu.

"Apa kepentingan mereka? Banyak, diantaranya untuk lobi-lobi dan mereka dapat perlindungan dan pembelaan," ujarnya lagi. 

Menurut dia, para calon atau kandidat biasanya juga mendapat kucuran dana rahasia dari AIPAC. “Selain dari judi online dan narkoba, biasanya juga dari AIPAC,” ujar tokoh yang sudah melanglangbuana ke 11 negara itu.

AIPAC singkatan dari American Israel Public Affairs Committee (Komite Urusan Umum Amerika-Israel).

“Ini organisasi lobi politik dan pencari dana (fundraising) terkuat di Amerika Serikat yang bertujuan memengaruhi kebijakan pemerintah AS agar selalu mendukung dan memperkuat hubungan dekat dengan Israel,” ujarnya.

“AIPAC selalu mencari organisai atau lembaga yang memiliki kekuatan massa dan pengaruh besar untuk disumbang dana. AIPAC senang kalau ada organisasi koflik, karena bisa langsung masuk lewat pendanaan. Tentu sumbangan itu bukan cek kosong tapi ada itung-itungannya, ada kompensasinya,” ujarnya.

“Watak politik Israel dan Amerika kan sama, selalu menyandera orang yang disumbang. Karena itu negara dan organisasi yang disumbang IPAC tak pernah berdaulat atau madiri tapi jadi wayang yang dipermainkan. Bahkan ibaratnya juga disuruh cium kaki mereka,” ujarnya.

Karena itu ia mewanti-wanti agar para kiai peserta muktamar ke35 NU hati-hati.

“Lebih aman menolak. Dengan menolak risywah para kiai bukan saja telah menyelamatkan NU tapi juga menyelamatkan anak istri dan cucu kiai itu sendiri. Masak tiap hari ceramah agama mengharamkan judi dan narkoba tapi diam-diam anak istrinya dikasih makan uang narkoba, judi, dan AIPAC. Padahal risywah itu sendiri sudah haram. Risywah itu haram mughalladzah,” ujarnya.

“Masak orang suci seperti kiai atau ulama makan uang haram kuadrat, sudah haram karena hasil judi, narkoba dan AIPAC, masih haram lagi karena lewat transaksi jual beli suara,” tambahnya.

Meski demikian ia menyadari bahwa orang alim pun bisa terjerumus kepada perbuatan dosa besar karena tak tahan godaan.

“Barsisha kurang alim apa. Ia ahli ibadah, sangat alim dan bahkan memiliki banyak pengikut, tapi terperosok ke dalam kubangan dosa besar. Wana’udzubillah,” ujarnya.

Karena itu para kiai harus ekstra hati-hati.

“Ini memang bagian dari ujian keimanan. Tapi insyaallah para kiai lolos ujian, terutama jika sadar bahwa beliau-beliau itu tak mau putra-putri, istrinya dan bahkan cucunya kemasukan uang haram mughalladzah itu,” ujarnya.