Ringkasan Berita
- Fokus utama Muktamar NU ke-35 bukan pada pemilihan Ketua Umum, melainkan pada pencalonan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) dengan berbagai kubu agresif menyodorkan daftar kandidat mereka.
- Nama-nama kiai yang banyak disebut sebagai calon anggota Ahwa antara lain KH Nurul Huda Djazuli, KH Kafabihi Mahrus Aly, KH Said Aqil Siroj, KH Asep Saifuddin Chalim, dan KH Miftachul Akhyar, serta beberapa lainnya dari berbagai daerah.
- Rekomendasi dan usulan nama-nama kiai telah disertai tandatangan dan stempel dari struktur PCNU setempat, namun terdapat kekhawatiran nama-nama tersebut bisa 'hilang' karena dugaan praktik karantina atau skenario tertentu di lapangan.
- Sebagian Rais Syuriah PCNU menyatakan akan mengikuti muktamar sesuai nurani dan menolak mengikuti skenario calon tertentu, bahkan menolak untuk 'mampir' ke tempat-tempat yang diminta sebelum tiba di lokasi muktamar.
- Situasi di lapangan digambarkan rumit dengan berbagai kubu saling menyodorkan 9 calon anggota Ahwa, baik sebagai paket dengan calon ketua umum maupun sebagai daftar tersendiri, menciptakan dinamika politik internal yang intens.
JOMBANG, BANGSAONLINE.com-Suhu Muktamar ke-35 NU mulai menghangat. Yang menarik, dalam muktamar kali ini bukan siapa calon ketua umum yang banyak menjadi sorotan melainkan siapa saja para kiai yang akan menjadi calon anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa). Bahkan masing-masing kubu tampak agresif menyodorkan susunan 9 calon anggota kepada PCNU dan PWNU.
Seperti diberitakan HARIAN BANGSA pada Kamis (27/8/2026), di sejumlah PCNU dan PWNU banyak sekali nama kiai yang disebut-sebut sebagai calon anggota Ahwa. Mereka antara lain KH Nurul Huda Djazuli (Ploso Kediri), KH Kafabihi Mahrus Aly (Lirboyo Kediri), KH Said Aqil Siroj (mantan Ketua Umum PBNU), KH Asep Saifuddin Chalim (Pacet Mojokerto), KH Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU), KH Ma’ruf Amin (mantan Rais Aam), TGH Ma'arif Makmun, KH Anwar Manshur (Lirboyo Kediri), Tgk H. Nuruzzahri Yahya (Aceh), KH Muhammad Ali Cholil (Kalimantan Timur), dan beberapa kiai lainnya.
Nama-nama kiai tersebut bukan hanya banyak disebut oleh PCNU dan PWNU tapi juga sudah banyak yang masuk dalam surat rekomendasi dan usulan yang telah ditandangani Rais dan Katib Syuriah PCNU plus stempel di berbagai daerah.
“Namun melihat pengondisian di lapangan, apalagi ada dugaan karantina segala, bisa saja sebagian nama kiai itu hilang,” ujar seorang Rais Syuriah PCNU yang enggan disebut namanya.
Ia memberi contoh kasus Palembang yang viral. “Ya kayak gitu di lapangan,” ujarnya sembari menunjukkan pesan percakapan WA yang menggambarkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi.
Meski demikian ada banyak Rais Syuriah PCNU yang menolak mengikuti skenario calon tertentu.
“Saya berangkat ke Muktamar NU sesuai nurani saya,” ujar seorang Rais Syuriah kepada BANGSAONLINE.
"Saya langsung ke lokasi Muktamar, saya gak mau mampir ke tempat yang diminta," ujarnya.
Ia juga bercerita bahwa saat PCNU tiba di Bandara Juanda sudah ada yang menjemput.
“Semua kubu sama-sama menyodorkan 9 anggota calon Ahwa sesuai versinya masing-masing,” ujarnya.
Menurut dia, 9 nama kiai yang disodorkan itu ada kalanya paket dengan calon ketua umum, namun ada juga yang hanya menyodorkan 9 calon angota Ahwa.










