Ringkasan Berita
- Mantan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj, menyambut positif pencalonan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.
- Gus Kikin dinilai layak karena merupakan keturunan pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari, dan telah mendapat mandat dari PWNU Jawa Timur untuk maju dalam pemilihan.
- Gus Kikin mengusung dua agenda utama: penguatan ekonomi warga Nahdliyin sebagai potensi pasar strategis dan pembumian kembali Qanun Asasi karya KH. Hasyim Asy'ari.
- Qanun Asasi dianggap penting untuk mengembalikan arah gerak NU sesuai cita-cita awal pendiri, setelah sempat tergeser saat NU menjadi partai politik pada 1952.
- Muktamar ke-35 NU diikuti oleh sejumlah figur ulama lain seperti KH Yahya Cholil Staquf, KH Yusuf Chudori, dan KH Abdul Gaffar Rozin dalam bursa kepemimpinan PBNU.
JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj, menyambut positif majunya Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.
Hal itu diungkapkan saat berkunjung serta ziarah ke makam KH. Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (29/8/2026).
“Pencalonan Gus Kikin sangat layak mengingat kapasitasnya sebagai dzuriyah atau garis keturunan dari muassis dan pendiri NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari,” ujarnya.
Gus Kikin yang mendapatkan mandat dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur telah menyatakan kesiapannya untuk maju dalam perhelatan yang dipusatkan di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tersebut.
Dalam pencalonannya, ia mengusung dua agenda utama, yakni penguatan ekonomi warga serta pembumian kembali Qanun Asasi karya KH. Hasyim Asy'ari sebagai pijakan utama tata kelola organisasi.
Menurut Gus Kikin, Qanun Asasi perlu dihidupkan kembali agar arah gerak NU tetap selaras dengan cita-cita awal para pendiri, setelah sempat tergeser saat NU menjadi partai politik pada 1952.
“Ini yang ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1952, kemudian ditinggalkan,” ujar Gus Kikin.
Di sisi lain, ia melihat besarnya populasi warga Nahdliyin sebagai potensi pasar dan kekuatan ekonomi yang amat strategis jika dikelola secara terstruktur.
“Jumlah warganya yang begitu besar itu pasar ekonomi. Itu kalau ditata dengan baik insyaallah jadi satu nilai bagi ekonomi NU,” tandas Gus Kikin.
Muktamar ke-35 NU yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 ini diramaikan oleh sejumlah nama figur ulama yang masuk dalam bursa kepemimpinan PBNU. Selain Gus Kikin, nama-nama lain yang turut mengemuka di arena muktamar antara lain KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Yusuf Chudori (Gus Yusuf), serta KH Abdul Gaffar Rozin (Gus Rozin). (aan/msn)










