SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gula menjadi salah satu bahan yang sulit dipisahkan dari makanan dan minuman sehari-hari, mulai dari gula pasir untuk kopi dan teh hingga gula cair atau sirup yang banyak digunakan dalam minuman kekinian.
Namun, muncul pertanyaan apakah gula cair sebenarnya lebih baik dibandingkan gula pasir.
Mengutip Harvard Health Publishing dari Amerika Serikat, berbagai jenis gula tambahan pada dasarnya tetap memberikan kalori dan diproses tubuh dengan cara yang serupa.
Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa gula dalam bentuk cair, terutama dari minuman manis, cenderung tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan padat sehingga seseorang berpotensi mengonsumsi lebih banyak kalori.
Gula pasir atau sukrosa merupakan jenis gula yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan jika dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan banyak zat gizi.
Meski demikian, penggunaan gula pasir memiliki satu kelebihan karena jumlahnya lebih mudah terlihat dan diukur ketika ditambahkan sendiri ke dalam makanan atau minuman.
Sementara itu, gula cair dapat mencakup berbagai bentuk pemanis seperti sirup gula, madu, hingga gula yang telah dilarutkan dalam minuman.
Tantangannya, gula dalam bentuk cair sering kali lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa disadari karena seseorang dapat menghabiskan segelas minuman manis dalam waktu singkat meski kandungan gulanya cukup tinggi.
Hal tersebut menjadi perhatian karena minuman berpemanis merupakan salah satu sumber utama gula tambahan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut konsumsi minuman manis secara rutin berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk kenaikan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kerusakan gigi.
Lantas, mana yang lebih baik antara gula cair dan gula pasir?
Jawabannya bukan semata-mata terletak pada bentuknya, melainkan pada jumlah yang dikonsumsi karena gula cair tidak otomatis lebih sehat hanya karena berbentuk sirup atau berasal dari bahan yang dianggap alami.
Begitu pula gula pasir tidak selalu berbahaya jika dikonsumsi secara terbatas sehingga yang perlu diperhatikan adalah total gula tambahan yang masuk ke dalam tubuh setiap hari.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, sedangkan pembatasan hingga kurang dari 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Karena itu, baik memilih gula pasir maupun gula cair, langkah terbaik adalah mengurangi konsumsi berlebihan dan membiasakan diri menikmati rasa alami makanan serta minuman.
Dengan demikian, persoalannya bukan soal gula mana yang paling sehat, tetapi seberapa bijak seseorang mengatur jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari.










