KEDIRI, BANGSAONLINE.com-Ketika menjabat sebagai Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berpesan agar NU tidak lupa mengeritik pemerintah. Menurut Gus Dur, hal itu bertolak dari posisi NU sebagai organisasi agama yang salah satu kewajibannya mengeritik dan mengawasi jalannya pemerintah.
Gus Dur menyampaikan pesan itu saat pidato dalam acara pembukaan Muktamar ke-30 NU yang berlangsung sejak tanggal 21 hingga 27 Desember 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
“Menyadari bahwa Nahdlatul Ulama ini adalah organisasi agama yang juga menjalankan tugas memberikan kritik dan mengawasi jalan pemerintahan dari sudut agama, NU jangan sampai lupa mengeritik pemerintahan yang ada,” kata Gus Dur yang merupakan putra KH Abdul Wahid Hasyim, pejuang kemerdekaan RI yang mendapat anugerah gelar pahlawan nasional dari Presiden Soekarno pada 1964.
Menurut Gus Dur, tradisi mengeritik pemerintah itu sudah dijalankan NU lama sekali. “Bahkan saya 15 tahun rasanya diinjak-injak hanya karena tidak cocok dengan pemerintahan yang ada,” ujar Gus Dur yang disambut tepuk tangan ribuan muktamirin.
“Masak ini akan kita tinggalkan hanya karena Anda mau baik-baikan sama saya (presiden),” ujar cucu pendiri NU Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari itu.
“Boleh baik tapi tetap kritis,” tambah Gus Dur menekankan.
Ketua Umum PBNU tiga periode itu juga mengingatkan agar NU jangan sampai menjadi organisasi yang cari muka atau penjilat.
“Hubungan baik tapi bersikap kritis, itulah yang menjadi landasan bagi demokrasi di negeri kita. Bukannya kita mencari muka kepada orang untuk bisa tetap berkuasa,” tegasnya.










