Soal Buku Islam Ala Prabowo, Kiai Asep: Saya sudah Mengingatkan Panitia sejak Awal

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengaku kaget karena buku Islam Ala Prabowo tiba-tiba muncul secara masif di media sosial. Bahkan diiringi narasi sinis dan cenderung menghujat.

“Ketika panitia buku itu minta tulisan kepada saya, saya sudah mengingatkan sejak awal agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA kepada BANGSAONLINE, Ahad (6/9/2026) sore.

Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu memang termasuk salah satu penulis di buku tersebut.

“Saat panitia minta tulisan, hanya saya satu yang ada dalam pikiran saya, barangkali Pak Prabowo bisa terinspirasi atau mau mengambil ibrah tentang kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat tegas dalam memberantas korupsi dan memberantas nopotisme serta kolusi. Itulah motif saya menulis di buku tersebut. Jadi semangat saya, semangat untuk berdakwah. Kita semua kan tahu bahwa kebijakan presiden sangat menentukan nasib bangsa Indonesia,” ujar Kiai Asep panjang lebar sembari mengatakan tak ada puja-puji dalam tulisannya.

“Tulisan saya bisa dicek. Saya hanya berharap Pak Prabowo yang baru menjadi presiden bisa meniru kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang dalam waktu singkat bisa memakmurkan dan menyejahterahkan rakyatnya. Ya, dalam jangka waktu sangat pendek, 2,3 tahun Umar bin Abdul Aziz sukses. Bahkan masyarakat kesulitan menyalurkan zakat karena semua orang sudah kaya raya,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) itu.

“Setiap saya diundang ceramah di depan pejabat, baik kepala daerah maupun menteri, saya selalu menceritakan tentang kehebatan pemimpin Islam Umar bin Abdul Aziz dengan harapan bisa menginspirasi, terutama dalam ketegasannya memberantas korupsi dan nepotisme,” ujarnya sembari berharap Prabowo membaca tulisan tersebut agar terinspirasi bahwa dalam pengelolaan pemerintah adalah pemberantasan korupsi dan kolusi.

Kiai Asep juga mendesak pemerintah tidak mengandalkan pajak. “Harusnya pemerintah memprioritaskan penghasilan dari BUMN. Itulah yang harus jadi andalan. Selain BUMN juga pemerintah harus menggerakkan hilirisasi,” tegas Kiai Asep.

“Itulah salah satu poin semangat dalam tulisan saya. Kita ini negara kaya dan negara besar. Jadi jangan mengandalkan pajak, kasihan rakyat,” tambah Kiai Asep.

Kiai Asep secara tegas menyatakan tak ada narasi mensejajarkan atau menyamakan Prabowo dengan Umar bin Abdul Aziz. “Saya menceritakan kisah sukses Umar bin Abdul Aziz justeru agar Prabowo bisa terinspirasi dan meniru dalam memberantas korupsi dan kolusi,” ujarnya sembari mengatakan ia mengulang-ulang pemberantasan  korupsi dan nepotisme dalam tulisannya.

Ia mengaku telah membaca buku karangan Prabowo yang berjudul Paradox yang mengaku punya semangat memberantas korupsi. “Dari situlah saya berharap Pak Prabowo bisa memberantas korupsi secara tegas,” harapnya.

Kiai Asep mempersilakan BANGSAONLINE membaca tulisan Kiai Asep terutama pada halaman 336 di bagian bawah. “Di situ saya berharap kepemimpinan atau pemerintahan Presiden Prabowo tegas, anti korupsi, efisien, efektif dan berakhlak sesuai dengan nilai-nilai agama. Paling tidak, seperti pemerintahan yang pernah dipraktikkan oleh Umar bin Abdul Aziz yang secara tegas dan berani memberantas korupsi dan nepotisme,” ujarnya mengutip tulisan dalam buku tersebut di bagian bawah halaman 336 tersebut.

“Saya katakan di situ, memang sangat berat. Tapi Umar bin Abdul Aziz sukses melakukan, termasuk memberantas korupsi dan kolusi terhadap keluarganya sendiri dan Istana,” tambah kiai miliarder tapi dermawan yang mengaku tak pernah mau disumbang oleh pemerintah itu.

“Saya pernah diberi uang 125 juta saat ada kunjungan pejabat ke sini, tapi langsung saya bagi-bagikan kepada orang. Jadi hari itu juga langsung habis, karena saya bagikan kepada orang,” ujarnya.