Ringkasan Berita
- KH Mukhlis Muchsin mendukung industrialisasi di Bangkalan dengan catatan harus mampu buka lapangan kerja, gerakkan ekonomi, dan tingkatkan SDM Madura.
- Ia meminta investor libatkan ulama dan pesantren dalam sosialisasi sejak dini agar masyarakat paham dan dukung proyek.
- Proyek industri ini diproyeksikan serap lebih dari 30 ribu tenaga kerja lokal dan jadi momentum perluas koneksi ekonomi internasional.
- Bangkalan dinilai punya keunggulan strategis sebagai gerbang Madura dan dekat Surabaya untuk jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
- Industrialisasi dinilai tidak cukup hanya dari jumlah pabrik atau investasi, tetapi harus disertai kajian komprehensif untuk membangun manusia Madura.
BANGKALAN,BANGSAONLINE.com - Rencana industrialisasi di Kabupaten Bangkalan mendapat dukungan ulama dan kalangan pesantren.
Salah satu dukungan disampaikan KH Mukhlis Muchsin, Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Modung.
Menurutnya, industrialisasi tidak cukup hanya ditandai dengan pembangunan pabrik dan masuknya investasi.
Kehadiran industri juga harus mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan perekonomian masyarakat, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Madura.
“Industrialisasi ini harus menjadi peluang bagi masyarakat, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi,” ujar KH Mukhlis Muchsin saat menghadiri penandatanganan kerja sama antara PT Wiraraja Madura International, Odasco LLC, dan Suzhou Artisan Decoration Engineering Co., Ltd., di Pendopo Agung Bangkalan, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah investor dari Uni Emirat Arab dan Republik Rakyat Tiongkok. Kehadiran para investor dinilai menjadi momentum bagi Bangkalan untuk memperluas koneksi ekonomi dengan dunia internasional.
Terlebih, CEO PT Wiraraja Madura Indonesia menyampaikan bahwa pengembangan industri tersebut diproyeksikan membuka lapangan kerja bagi lebih dari 30 ribu tenaga kerja lokal, khususnya masyarakat Bangkalan.
Mukhlis menilai potensi tersebut perlu dikawal bersama agar manfaat investasi benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
“Dengan hadirnya para pengusaha dari Emirat Arab dan China, ini menjadi komitmen antara pemerintah, pengusaha dan dunia internasional. Ini juga membuktikan bahwa Madura sudah mulai dapat diterima oleh pengusaha internasional,” bebernya.
Karena itu, ia meminta investor membangun komunikasi dengan masyarakat sejak tahap awal. Salah satu cara yang dinilainya efektif adalah melibatkan ulama dan pengasuh pesantren dalam proses sosialisasi.
“Investor dapat menggandeng ulama, pengasuh pondok, agar informasi mengenai maksud dan tujuan pembangunan pabrik itu mengena di masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena ulama dan pesantren memiliki kedekatan sosial yang kuat dengan masyarakat Madura. Komunikasi yang baik dinilai dapat membantu masyarakat memahami arah pembangunan sekaligus mengetahui manfaat yang akan diperoleh dari kehadiran industri.
“Jangan sampai masyarakat hanya mengetahui ketika pabrik sudah berdiri. Sosialisasi harus dilakukan sejak awal, sehingga ada pemahaman dan dukungan bersama,” ujarnya.
Mukhlis juga melihat posisi Bangkalan sebagai gerbang Madura dan kawasan yang berdekatan dengan Surabaya sebagai keunggulan strategis.
Potensi tersebut, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk menarik investasi sekaligus menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Apalagi jika pengembangan kawasan industri tersebut ke depan masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Ini momentum untuk betul-betul berdirinya pabrik-pabrik di Bangkalan,” katanya.
Sebagai pengasuh pesantren, KH Mukhlis menegaskan dukungannya terhadap rencana industrialisasi di Bangkalan.
“Saya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar akan mendukung berdirinya industri di Bangkalan,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan agar industrialisasi tidak hanya diukur dari jumlah pabrik maupun nilai investasi yang masuk.
“Pemerintah harus melakukan kajian yang komprehensif. Bagaimana industrialisasi tidak hanya membangun industri, tetapi juga bagaimana industri itu mampu membangun manusia di Madura,” pungkasnya. (uzi/van)










