BPJS Kesehatan Kupas Layanan Jantung JKN dalam Media Workshop di Cimahi

KEDIRI, BANGSAONLINE.com BPJS Kesehatan menggelar Media Workshop bertema 'Kupas Tuntas Layanan Jantung dalam Program JKN: Dari Akses Pelayanan Berkualitas hingga Layanan Jantung Canggih bagi Peserta' di Cimahi pada Rabu (16/9/2026).

Kegiatan itu mendorong transformasi layanan jantung melalui pendekatan Value-Based Health Care. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan transformasi diperlukan untuk menjawab tantangan biaya kesehatan sekaligus memastikan outcome yang lebih baik bagi peserta. 

“Tantangan peningkatan biaya terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Pada 2025, total biaya pelayanan JKN mencapai Rp191,3 triliun, dengan 87,1 persen berasal dari rumah sakit,” katanya.

Pujo menyatakan, penyakit jantung menjadi perhatian utama karena tingginya utilisasi layanan. Pada 2025, tercatat lebih dari 29,7 juta kasus dengan pembiayaan Rp17,35 triliun.

Ia menekankan penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) melalui upaya promotif dan preventif, termasuk pengendalian tekanan darah, gula darah, pemantauan HbA1C, serta kepatuhan pengobatan.

Di rumah sakit, BPJS Kesehatan mendorong pelayanan berorientasi mutu dengan pendekatan Heart Team, tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), dan staged revascularization.

Indikator mutu juga diarahkan dari proses menuju outcome, mencakup waktu tanggap kritis, keselamatan pascatindakan, kualitas pemulihan, dan efisiensi sistem rujukan.

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Kediri, Tutus Novita Dewi, mengapresiasi perhatian jurnalis terhadap program JKN.

“Harapan kami, perhatian para jurnalis memberi semangat bagi seluruh duta BPJS Kesehatan dan stakeholder untuk meningkatkan pelayanan kesehatan nasional,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Kodam III Siliwangi melalui Pamen Ahli Tri Adrijanto Santoso yang menekankan pentingnya akses dan kecepatan layanan, serta RS Dustira yang melayani 975 pasien cathlab peserta JKN sepanjang Januari-Agustus 2026.

Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar, menegaskan perlunya upaya promotif dan pola hidup sehat untuk menekan tingginya angka penyakit jantung. (uji/mar)