SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bergolak. Para mahasiswa, guru besar, alumni, dosen, menolak pelantikan Rektor Prof Akhmad Muzakki, PhD, karena selain diduga terlibat kasus suap Kopertais juga dinilai otoriter selama menjadi rektor UINSA selama ini.
"Mayoritas dosen menolak Muzakki. Karena selama ini dia merusak tata kelola. Otoriter," ujar seorang dosen muda kepada BANGSAONLINE, Kamis 17 Septermber 2026.
Seorang guru besar UINSA juga mengeluh. Ia mempersoalkan sikap menteri agama yang tetap melantik Akhmad Muzakki. Padahal penolakan dari internal kampus meluas.
"Ya itulah kepemimpinan menteri agama sekarang," ujar guru besar tersebut kepada BANGSAONLINE.
Juga banyak spanduk bertebaran bertuliskan penolakan terhadap Akhmad Muzakki untuk menjabat rektor periode kedua. Begitu juga di media sosial. Nama Akhmad Muzakki mendapat penolakan secara masif dengan berbagai meme.
Mereka menuntut Muzakki mundur karena dianggap merusak reputasi UINSA Surabaya.
Akhmad Muzakki dilantik Kementerian Agama sebagai Rektor UINSA pada Selasa (15/9/2026) untuk periode kedua. Sebelumnya, ia telah menjabat sebagai rektor pada periode 2022-2026.
Sehari sebelumnya, Senin (14/9/2026), Akhmad Muzakki mendapat panggilan dari Kejari Tanjung Perak Surabaya. Artinya, pemeriksaan berlangsung sehari sebelum pelantikan Muzakki sebagai Rektor UINSA.
Panggilan pemeriksaan terhadap Rektor UINSA tersebut tertuang dalam surat bernomor B-01/M.5.43/Fd.1/09/2026. Surat itu meminta yang bersangkutan menghadap penyidik Kejari Tanjung Perak pada Senin (14/9/2026).
Kasi Intelijen Kejari Tanjung Perak, I Made Agus Mahendra Iswara menjelaskan, pemanggilan tersebut terkait permintaan keterangan atas dugaan tindak pidana korupsi berupa suap atau gratifikasi yang melibatkan Kopertais Wilayah IV Jatim dalam proses sertifikasi tenaga pendidik atau dosen di lingkungan Kementerian Agama periode 2024-2025.
Sementara pihak UINSA mengaku tidak tahu informasi soal dugaan suap yang dikaitkan dengan Rektor UINSA periode 2026-2030 itu. Dilansir Kompas, Aslamiyah, Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UINSA Surabaya menegaskan bahwa pihak kampus tak berwenang untuk memberi penjelasan masalah tersebut.
“Oh kalau itu saya belum tahu, kami sama sekali tidak paham,” kata Aslamiyah, Rabu (16/9/2026). “Mohon maaf, kami tidak tim administrasi sama sekali tidak paham. Itu bukan kewenangan kami, bisa langsung ditanyakan ke pihak terkait,” tambahnya.
Seperti diberitakan, selain Akhmad Muzakki juga muncul calon kuat Rektor UINSA yaitu Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D, mantan Rektor UINSA 2018–2022 & Direktur Pascasarjana. Prof Msdar mendapat dukungan kuat dari civitas akademika UINSA.










