BANGKALAN,BANGSAONLINE.com - Masuknya investor asing ke Kabupaten Bangkalan membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah, dengan rencana pengembangan kawasan industri seluas sekitar 3.000 hektare.
Rencana tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Namun, pemerintah masih harus menyiapkan sejumlah kebutuhan, mulai dari kepastian lahan dan infrastruktur hingga kompetensi tenaga kerja lokal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan Ismet Efendi mengatakan pemerintah daerah masih menjajaki sejumlah lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan industri. Tiga wilayah yang menjadi opsi yakni Kecamatan Kamal, Socah, dan Klampis.
Menurut Ismet, lokasi tersebut belum ditetapkan secara keseluruhan karena pemerintah masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan serta menyesuaikannya dengan kebutuhan investasi yang akan masuk.
“Masih ada beberapa opsi, di tiga kecamatan, Kamal, Socah dan Klampis,” ujarnya. Jumat (18/6/2026).
Dalam rencana kerja sama dengan PT Wiraraja, perusahaan tersebut nantinya berperan menyediakan kawasan atau lahan yang dapat disewakan kepada perusahaan yang akan berinvestasi.
Ismet mengatakan minat investasi di Bangkalan tidak hanya berasal dari satu negara. Penjajakan juga dilakukan dengan sejumlah calon investor dari Tiongkok, Timur Tengah, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Pemkab Bangkalan menargetkan penyiapan lahan dapat dilakukan tahun ini. Jika tahapan tersebut berjalan sesuai rencana, pembangunan fasilitas industri diharapkan mulai dilaksanakan pada tahun berikutnya.
Selain kesiapan lahan dan infrastruktur, pemerintah juga menaruh perhatian pada sumber daya manusia. Pemkab Bangkalan menargetkan 70 hingga 80 persen tenaga kerja yang terserap nantinya berasal dari masyarakat lokal.
Sejumlah program pelatihan juga mulai disiapkan. Jenis pelatihan akan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang masuk agar tenaga kerja lokal memiliki kompetensi sesuai bidang pekerjaan yang tersedia.
“Tenaga lokal kita utamakan 70 sampai 80 persen. Nanti ada pelatihan-pelatihan,” kata Ismet.
Wakil Ketua DPRD Bangkalan Efendi juga menyambut rencana masuknya investasi tersebut. Menurut dia, kehadiran investor dapat menjadi momentum bagi Bangkalan untuk memperkuat perekonomian daerah.
Meski demikian, dia menekankan agar investasi yang masuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya bagi pemerintah daerah.
Pemerintah daerah, menurut Efendi, perlu memastikan ketersediaan lahan sekaligus menciptakan kondisi yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi investor. Pada saat yang sama, kepentingan masyarakat yang lahannya terdampak investasi juga perlu diperhatikan.
“Dampaknya bukan cuma kepada pemerintah Kabupaten Bangkalan, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ucapnya.
Efendi mengatakan sejumlah lahan di wilayah Socah mulai dijajaki, termasuk proses menuju pembebasan lahan. Selain Socah, Kecamatan Kamal dan Klampis juga masih menjadi alternatif lokasi kawasan industri.
Menurutnya, tantangan utama bukan hanya mendatangkan investor ke Bangkalan, tetapi memastikan masyarakat setempat dapat mengambil bagian ketika investasi tersebut terealisasi.
“Pelatihan keterampilan menjadi salah satu kunci. Khususnya mereka yang masih menganggur, perlu dipersiapkan sejak sekarang agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” ungkapnya.
Pengamat Ekonomi Pembangunan dan Moneter Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Ris Yuwono Nugroho, mengingatkan agar kawasan industri yang nantinya dibangun tidak berkembang menjadi kawasan eksklusif yang terpisah dari aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Pria yang juga Koordinator Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu mengatakan, investasi seharusnya mampu membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Jangan sampai kawasan itu tidak terkait dengan sekitarnya. Kawasan industri harus terkait dengan perekonomian di sekitar,” ucapnya saat dihubungi melalui jejaring telepon selulernya.
Menurut Ris, berbagai kebutuhan industri, seperti tenaga kerja, jasa pendukung, bahan baku, hingga layanan penunjang, sebisa mungkin melibatkan masyarakat lokal Madura.
Perguruan tinggi juga dinilai memiliki peran dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi kebutuhan industri. UTM sebagai salah satu perguruan tinggi terdekat dapat memetakan kompetensi lulusan yang dibutuhkan perusahaan.
Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri dapat dipersiapkan melalui program magang, penelitian, pengajaran, hingga pengembangan hubungan bisnis sejak tahap awal.
Ris menambahkan, peluang ekonomi dari kawasan industri tidak hanya terbuka melalui pekerjaan formal. UMKM lokal juga dapat masuk ke dalam rantai ekonomi kawasan melalui penyediaan katering, bahan baku, serta berbagai jasa pendukung lainnya.
“Sosialisasi rencana investasi dan kebutuhan tenaga kerja perlu dilakukan sejak awal. Masyarakat harus mengetahui keterampilan apa yang akan dibutuhkan sehingga dapat mempersiapkan diri,” pungkasnya.










