Terpisah, pakar ilmu komunikasi politik dari Unair Surabaya, Sukowidodo juga pesimis calon perseorangan akan muncul di Pilgub Jatim mendatang. Selain syarat dukungan yang jumlahnya cukup besar yakni sekitar 3,5 persen dari 30 juta pemilih di Jatim, kultur masyarakat Jatim juga masih bersifat komunal.
"Calon independen itu berpotensi muncul pada daerah urban (perkotaan) yang masyarakatnya bersifat individualistik. Secara sosiologis masyarakat Jatim itu masih didominasi pedesaan yang cenderung bersifat komunal," tegas Sukowidodo.
Menurut Sukowidodo, munculnya calon independen itu dipengaruhi karena kepercayaan (trust) masyarakat terhadap parpol rendah dan masyarakat memiliki sarana informasi yang memadai sehingga calon perseorangan cenderung akan memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial untuk mendapatkan dukungan masyarakat. "Saya meyakini calon perseorangan pada Pilgub Jatim mendatang akan mengalami kesulitan," tegas Sukowidodo.
Disinggung soal peluang kandidat calon gubenur di Jawa Timur yang muncul ke publik menggunakan jalur independen? Dengan lugas Sukowidodo menegaskan bahwa para kandidat Cagub di Jatim itu memiliki popularitas dan elektabilitas yang cukup tinggi sehingga parpol akan berpikir ulang jika menolak mereka.
"Orang seperti Gus Ipul maupun Khofifah, saya kira tak mungkin menggunakan jalur independen karena parpol pasti akan merekomendasi jika mereka berdua maju lewat parpol," pungkas Sukowidodo. (mdr/ros)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




