Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra memaparkan kinerja PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE
Competitive Advantage menjadi grand strategy pertama yang dicanangkan perusahaan. Strategi ini akan menjadikan perusahaan sebagai produsen dengan biaya murah melalui optimasi logistik dan efisiensi energi.
“Berbagai langkah untuk mencapai optimalisasi logistik telah ditempuh Perseroan. Hingga akhir 2015 Perseroan telah menyelesaikan beberapa proyek strategis yaitu Packing Plan Pontianak, Balikpapan dan Lampung, Grinding Plant Dumai serta New Coal Mill di Semen Tonasa," jelas Rizkan Chandra.
Strategi ini, lanjut Rizkan juga akan didukung dengan pengelolaan supply chain yang terintegrasi dan inovasi di seluruh korporasi. Dalam strategi ini, Perseroan juga mulai mengembangkan dan mengkampanyekan keunggulan brand produk Semen Indonesia group sebagai brand dengan kualitas terbaik, pabrik yang ramah lingkungan (green industry), serta produk semen yang paling Indonesia.
Untuk proyek Perseroan saat ini berkonsentrasi menyelesaikan 2 pabrik baru dengan kapasitas masing-masing 3 juta ton per tahun yaitu di Rembang Jawa tengah dan Indarung VI di Padang Sumatera Barat.
Saat ini proyek pabrik Rembang memasuki progres 94 persen, sedangkan pabrik Indarung VI memasuki progres pembangunan 93 persen.
Kedua pabrik baru tersebut diharapkan dapat beroperasi pada akhir tahun 2016 ini. Dengan selesainya dua pabrik baru tersebut akan menambah kapasitas produksi perseroan menjadi 37,8 juta ton pertahun, dari kapasitas saat ini 31,8 juta ton pertahun.
Semen Indonesia juga tengah memulai pembangunan pabrik baru di Aceh melalui anak usahanya Semen Indonesia Aceh dan diharapkan dapat beroperasi tahun2020.
Selain itu, perseroan juga tengah menyelasikan proyek Grinding Mill di Jawa Barat serta proyek Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG), dengan kapasitas 30,6 MW di pabrik Tuban. Proyek ini diharapkan beroperasi pada akhir tahun 2016. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




