Pakde Karwo saat sebelum pagelaran wayang kulit dengan lakon Kalimatoyo di kampung halamannya, Kabupaten Madiun.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur, Soekarwo belum lama ini menggelar pertunjukkan wayang kulit di kampung halamannya di Desa Palur Kecamatn Kebonsari, Kabupaten Madiun. Pertunjukan wayang kulit dengan dalang beken Ki Anom Suroto itu mengambil lakon Kalimatoyo yang merupakan julukan untuk Prabu Yudhistira, raja yang berhasil dalam memimpin kerajaan Astina.
Kalimatoyo yang menjadi lakon dalam pagelaran wayang kulit itu dinilai berisi pesan suksesi kepemimpinan di Jawa Timur. Gubernur Jatim dua periode yang sebentar lagi mengkhiri masa jabatannya itu seperti ingin memberi pesan kepada warga Jawa Timur tentang siapa yang layak menjadi penerusnya. Pernyataan itu disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman.
“Kalau kita jeli melihat makna lakon Kalimatoyo itu, maka bisa ditangkap seperti ada pesan suksesi yang ingin disampaikan Pakde Karwo kepada warga Jawa Timur perihal siapa pengganti dirinya,” ujar doktor ilmu politik dari Murdoch University, Australia itu, Minggu (8/10).
Akademisi Unair yang akrab disapa Angga itu mengungkapkan, lakon Kalimatoyo bukan lakon sembarangan. Dalam lakon itu sarat makna tentang kepemimpinan dan kriteria seorang ksatria. Makna demokrasi juga kental dalam lakon ini. Sebab, Prabu Yudhistira lebih memilih menyerahkan tongkat kepemimpinannya kepada Parikesit ketimbang Pancakusuma yang tak lain adalah cucu Prabu Yudhistira.
Angga melanjutkan, tradisi raja-raja adalah menurunkan tahtanya kepada sosok yang memiliki ikatan trah atau keturunan. Tapi Yudhistira tidak, ia lebih memilih Raden Parikesit yang merupakan anak Abimanyu. Meskipun saat itu sosok Pancakusuma dinilai sebagai kandidat kuat penerus sang kakek karena memiliki darah keturunan langsung dari raja.
“Prabu Yudhistira menerapkan prinsip demokrasi dengan memberi tongkat estafet kepada sosok Raden Parikesit yang dinilai mumpuni, berjiwa ksatria dan bisa mengayomi rakyat Astina, meskipun tak ada hubungan trah di antara mereka. Ini tentunya relevan dengan situasi Jatim saat ini yang tengah dalam proses mencari pengganti Pakde Karwo yang sebentar lagi lengser,” urai Direktur The Initiative Institute tersebut.
Entah kebetulan atau tidak, lakon Kalimatoyo yang dominan mengulas sosok Raden Parikesit pernah digelar di kampus FIS Universitas Indonesia (UI) atas gagasan Hermanto Dardak. Saat itu Hermanto dengan gamblang menjelaskan pagelaran wayang kulit itu digelar sebagai tasyakuran kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014. Hermanto yang merupakan ayah kandung Bupati Trenggalek Emil Dardak menilai figur Jokowi mirip sosok Raden Parikesit.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




