Nah, di warung itulah, Nur Kalim melihat sepeda para siswanya ada di depan warung kopi. Padahal pukul 07.30 WIB, warung masih tutup. "Spontan saya gedor-gedor dan saya berteriak anak-anak saya suruh keluar. Saya juga bilang kalau tak ada yang kembali ke sekolah, saya panggil orang tua," tegasnya.
Namun, siswanya tetap tak ada yang mau keluar dan masuk sekolah. "Waktu itu saya benar-benar bingung memikirkan kenakalan anak-anak ini. Bahkan, saking beratnya memikirkan anak-anak, malam sebelumnya saya bermimpi, karena sering memikirkan kenakalan anak-anak dan kerap mengobrak mereka nongkrong di warung kopi," lanjutnya.
Setelah mengambil ijazah, Nur Kalim kembali ke sekolah sekitar pukul 08.00 WIB. "Tak berlangsung lama, anak-anak datang dan menggedor-gedor pintu sangat keras mempratikkan yang saya lakukan saat di warung kopi tadi. Saya lantas masuk kelas, tetapi anak-anak masih di luar. Mereka malah merokok dan tak ada rasa takut. Saat itu, Pak Rusdi (Kepala Sekolah) meminta siswa untuk masuk, karena saya sudah di dalam kelas," ungkapnya.
"Tapi, begitu masuk kelas, anak-anak semakin ramai dan gaduh sehingga mengganggu proses belajar mengajar. Saat itu, ada satu anak yang marahnya keterlaluan (Arigo Aris). Bangku dari depan sampai belakang digebrak-gebrak sampai naik-naik ke atas bangku. Hasil kreativitas anak-anak di atas bangku diturunkan. Tidak hanya itu, buku saya di atas meja juga dibuangi ke bawah," bebernya.










