Ya, itu semata-mata bagian dari tugas ketuhanan. Meski membenci, Tuhan tetap memberi. Meski memberi, tapi memberi. Seperti kita memberi uang receh kepada pengamen jalanan, apakah berarti kita suka kepada mereka? Tidak, bukan karena suka, tapi karena terpaksa. Bukan pula karena welas-asih, tapi karena risih.
Apalagi menganggur, maka syetan berkerumun menemani mereka dan terus membisikkan agar terus berlama-lama menganggur. Itulah sebabnya, maka Tuhan menegur penganggur agar melihat alam ciptaan-Nya lebih cerdas dan kreatif.
Lihat alam sekitar, lihat bumi ini yang dibentangkann luas, kaya dengan macam-macam servis. Lihat gunung, begitu kaya sehingga rejeki dan kehidupan bisa diambil secara melimpah. Wa ja'alna lakum fiha ma'ayis. Di situ ada rejeki, cari dan ambillah.
Seorang pengangguran tampak lusuh dan kepalaran, tapi tetap saja malas bekerja dan hanya mengharap belas kasihan orang lain, termasuk kepada kerabat sendiri. Nabi menegur dan mengomentari: "mencari kayu bakar di padang sahara jauh lebih terhormat ketimbang menganggur dan meminta-minta".
Jadi, sama-sama mencari uang, para penjual jajan, penjual asongan lebih mulia ketimbang pengamen dan pengemis. Tuhan menyukai tangan diatas dan membenci tangan dibawah. Mudah-mudah Allah menjadikan tangan kita selalu diatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




