Menurutnya, bagi karyawan pabrik, usai cuci tangan di pos satpam depan, harus cuci tangan lagi di ruang khusus. Di ruang tersebut, juga terdapat pengukur suhu tubuh otomatis yang akan menampilkan suhu tubuh seseorang dan suhu ruangan di layar monitor besar yang menempel di dinding.
"Kita beli alat itu baru-baru ini. Biar security tidak kerepotan mengecek suhu tubuh satu per satu. Sebab, karyawannya banyak. Bila ada yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat celcius, maka akan langsung diarahkan ke klinik," tambah Bambang.
Bambang mengaku tak mudah mengubah kebiasaan bagi 1.500-an karyawan. Bila dihitung dengan mitra dan karyawan musiman, jumlahnya ada 4.000-an orang. Semua terhubung, sehingga dibutuhkan kedisiplinan semuanya.
"Paling susah soal kebiasaan nongkrong dan bergerombol. Misalnya sopir truk pengangkut tebu dan penebang tebu di luar pabrik. Mereka mitra kami. Tetap kami sosialisasikan dengan tekun,” ujar Bambang.










