Takut Di-covid-kan, Warga Tuban Ini Enggan ke RS Meski Punya Gangguan Jantung

TUBAN, BANGSAONLINE.com - Angka Covid-19 di Kabupaten Tuban yang terus naik membuat masyarakat semakin waspada. Bahkan, fenomena kenaikan angka Covid-19 itu membuat masyarakat semakin khawatir untuk berobat ke rumah sakit. Alasannya, simpel, karena mereka khawatir di-covid-kan.

Apalagi, belakangan marak beredar kabar terkait rumah sakit yang meminta pihak keluarga pasien menandatangani surat pernyataan yang isinya bersedia dirawat sebagai pasien Covid-19. Selanjutnya, jika pasien tidak tertolong, bersedia mengikuti prokes rumah sakit.

Hal ini menambah ketakutan masyarakat untuk berobat ke puskesmas atau ke rumah sakit. Mereka akhirnya lebih memilih istirahat di rumah dan berobat ke dokter praktik ketimbang ke RS atau puskesmas.

Seperti yang dialami MN, pasien asal Kecamatan Bangilan. Meski diindikasi terkena gangguan jantung, ia tetap memilih di rumah daripada berobat ke RS.

"Siose digowo muleh mas. Garai urung-urung dikon tanda tangan surat pernyataan Covid. Nek pasien tidak tertolong bersedia mengikuti prokes. Iku ngerusak mental tenan. Akhire podo wedi. (Jadi dibawa pulang mas. Karena belum-belum disuruh tanda tangan surat pernyataan Covid. Jika pasien tidak tertolong bersedia mengikuti prokes. Itu sangat merusak mental. Akhirnya pada takut)," beber Kang Wil, warga Kecamatan Senori yang menyampaikan keluh kesah keluarga pasien MN saat dikonfirmasi, Minggu (27/6).

Ia bercerita bahwa keluarga sahabat karibnya itu memiliki riwayat indikasi gangguan jantung. Selanjutnya, dibawa oleh keluarga ke Puskesmas Bangilan agar mendapatkan perawatan. Namun, pihak puskesmas meminta agar pasien segera dirujuk ke RS. Akhirnya pihak keluarga membawa ke RSUD Jatirogo, karena RSNU dan RSUD Koesma Tuban dikabarkan kamarnya penuh.

"Meski di puskemas non reaktif, tapi saat dites di RS Jatirogo hasile positif rapid. Akhirnya disodori tulisan itu (surat pernyataan). Karena takut di-covid-kan akhirnya ya pasien dibawa pulang lagi," tambahnya.

Senada disampaikan Kati warga Kecamatan Bancar. Ia mengaku takut berobat ke puskesmas atau rumah sakit lantaran khawatir didiagnosa Covid-19. Kata dia, masyarakat di bawah lebih memilih berobat ke dokter praktik ketimbang ke puskesmas maupun ke rumah sakit.

"Takut saja di-rapid, terus reaktif. Terus suruh isolasi. Padahal itu belum tentu kena Covid-19," keluhnya.

"Semoga pihak rumah sakit mengerti keluhan masyarakat yang ada di bawah ini. Karena khawatir jika mau berobat ke rumah sakit, takut di-covid-kan," ujar perempuan yang berprofesi sebagai buruh tani itu.

Sementara itu, pihak Direktur RSUD Ali Mansur Jatirogo, dr Noor Istichawari belum merespons mengenai pasien yang pulang sendiri karena khawatir di-covid-kan. Ketika ditelepon melalui selulernya, ia tak menjawab. Sedangkan saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp belum direspons. (gun/ian)


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: