Setelah berdiam sejenak di pura untuk memanjatkan doa kepada Hyang Widi Wase atau Tuhan Yang Maha Esa, kata Damri, selanjutnya umat hindu Curik ini mengarak berbagai pusaka dan patung bathara ke sumber air Roro Kuning untuk disucikan. "Semuanya kita sucikan di sumber mata air Roro Kuning," terangnya.
Ritual kedua, lanjut Damri, berupa penyucian alam atau biasa disebut oleh umat Hindu sebagai “palemahan”. Upacara penyucian ini, menyerupai bersih desa atau ruwat bumi. Semua umat hindu bersama-sama membersihkan lingkungannya masing-masing agar suci. Terakhir, sebagai puncak kegiatan adalah Nyepi, yang jatuh pada Sabtu (21/03) mendatang. "Setelah semuanya disucikan, barulah kita nyepi," ujarnya.
Menurut pria yang dikenal umatnya sebagai Mangku Wilis ini, ada empat perlakuan penyepian atau disebut “catur brata” dalam upacara nyepi. Yakni, amati geni, amati lelungan, amati karya, dan amati lelangenan. Yang artinya, umat Hindu tidak menyalakan api dalam bentuk apapun, tidak bepergian atau berdiam diri di rumah, tidak bekerja atau berkarya dan yang terakhir tidak melakukan kesenangan.
"Amati geni dapat diaktualisasikan dengan tidak menyalakan api dapur alias tidak memasak, pada saat nyepi tidak boleh bepergian, tidak boleh bekerja dan harus menahan diri dan tidak boleh bersenang-senang," ungkap Damri.










