Luar Biasa, Penyandang Disabilitas Sidoarjo Terpilih dalam Inkubasi Nasional Scene 2021

Luar Biasa, Penyandang Disabilitas Sidoarjo Terpilih dalam Inkubasi Nasional Scene 2021

Didiagnosa Netra

Awalnya, pria kelahiran Desa Kedensari Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo ini tak pernah menyangka, jika harus menjadi seorang penyandang disabilitas. Dia terlahir normal dan dari sebuah keluarga yang biasa-biasa saja. Majid merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yakni Vivit alfiyah (32), dan alfavina (21).

Tahun 2018 lalu, dia sempat didiagnosis mengalami kebutaan total. Dokter menyebut ada kerusakan syaraf di bagian retina mata. Hal itu yang membuat Majid kian terpuruk (down).

Majid yang biasanya terlihat biasa-biasa saja, akhirnya memutuskan untuk menjauh dari teman-temannya. Bahkan, Majid cenderung menutup diri dari dunia luar. Selama itu juga dia hanya fokus pada pengobatan dan sering berada di rumah.

Delapan bulan berlalu, Majid mulai membuka hati dan pikiran untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Dia harus kembali melihat masa depan meski terbatas pada penglihatan. Meski dirinya selalu menjauh dari teman-temannya, namun support terus berdatangan agar Majid bisa kembali bangkit. Terlebih keluarga, orang tua, dan adik-adiknya.

"Mereka lah yang membuat saya semakin bersemangat dalma menjalani hari-hari," ucapnya.

Mulai saat itulah, Majid memberanikan diri untuk keluar dan beraktivitas kembali seperti biasanya. Meski butuh penyesuaian yang panjang, nyatanya Majid bisa seperti saat sekarang.

Lantas bagaimana dia melakukan itu?

Keterbatasan fisik, baginya bukanlah menjadi suatu penghambat untuk meraih prestasi. Selama ini, dia mengandalkan ide dan gagasan serta alat bantu gadget dan laptop bicara untuk menuangkan berbagai ide maupun gagasan dalam pembuatan skenario film.

Dia juga memiliki mentor yang berkualitas untuk menunjang berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Tanpa keberadaan mentor baginya tidak akan maksimal. Sehingga ide, gagasan, dan segala macam alat bantu lainnya yang mampu menjadikan dia lebih bersemangat dalam mengampanyekan isu-isu disabilitas melalui industri film kreatif.

"Ke depan, saya berencana untuk berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam membuat suatu campaign yakni membangun ekosistem pariwisata inklusif di Indonesia," pungkas Majid. (cat/ns)