Pendaki Gunung, Rocky Gerung Sangat Biasa Hadapi Penderitaan, Kesulitan, dan Ancaman

Pendaki Gunung, Rocky Gerung Sangat Biasa Hadapi Penderitaan, Kesulitan, dan Ancaman Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Heboh rumah Rocky Gerung yang kini sengketa dengan PT Sentul City menarik banyak perhatian banyak pihak. Bagaimana situasi dan pemandangan rumah tokoh vokal dan idealis itu?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, yang berkunjung ke rumah penuh tangga itu di Disway pagi ini, Sabtu 9 Oktober 2021. Di bawah ini BANGSAONLINE.com menurunkan secara lengkap. Khusus pembaca di BaBe, sebaiknya klik "lihat artikel asli" di bagian akhir tulisan ini. Tulisan di BaBe banyak yang terpotong sehingga tak lengkap. Selamat membaca:

PUN yang paling benci Rocky Gerung. Pasti ingin tahu seperti apa rumahnya itu: yang heboh itu. Setidaknya 50 persennya. Paling tidak di dalam hati.

Saya juga ingin tahu. Anda sudah tahu: tingkat keseriusan sebuah keinginan itu akan tecermin pada kegigihan usahanya. Kegigihan itu akan –meminjam istilah Al Kitab– mewujud pada tingkat pencapaian.

Saya mencapai apa yang saya inginkan itu: ke rumah Rocky Gerung. Tingkat keinginan saya memang –ibarat kadar dalam logam emas– 22 karat. Itu yang membuat saya bisa tiba di sana. Terlalu banyak orang yang punya keinginan, tapi sebenarnya hanya berkadar 18 karat –atau bahkan ada yang tidak berkarat sama sekali.

Anda juga sudah tahu: tidak sedikit orang yang ingin sukses. Hanya saja kadar keinginan itu yang membuat mereka tidak bisa mencapainya: hanya 18 karat.

Saya memang selalu tertarik pada orang yang punya hobi panjat gunung. Seperti Rocky Gerung itu. Yang badannya pasti terjaga langsing. Yang sikapnya pasti pro-lingkungan. Yang kemampuan menahan dirinya –terutama pada naluri kerakusan manusia– seperti seorang sufi.

Yang ia tidak terlihat bersikap sufi adalah kalau lagi bicara di media: tidak pernah mau mengalah. Ia bisa adu mulut dengan siapa saja sepanjang apa saja. Ia sudah biasa adu pikiran –yang lebih sulit dari sekadar adu mulut.

Yang jelas Rocky Gerung sudah sangat biasa menghadapi penderitaan, kesulitan, dan ancaman. Seluruh gunung di Indonesia sudah ia daki. Pun banyak gunung di dunia.

Pernah, selama lima tahun, ia mendaki Himalaya hampir setiap tiga bulan. Lewat Nepal. Yang sudah mencapai ketinggian 6.000 meter saja setidaknya lima kali.

Orang seperti Rocky-lah yang pernah berada di satu puncak gunung yang dikelilingi puluhan puncak gunung lainnya. Ya di kawasan Himalaya itu. Yang kalau senja semua warna puncaknya keemasan –mungkin sampai 33 karat. Itulah salah satu tata warna alam terindah yang pernah dilihatnya.

“Belum pernah sampai puncak Himalaya?”

“Belum. Bayarnya mahal. Antrenya lama. Bisa lima tahun,” katanya.

“Kalau di dalam negeri gunung mana yang terindah?”

“Rinjani,” katanya. “Lalu Semeru”.

Rinjani adalah gunung tunggal di Lombok. Pemandangan sejak dari bawah sudah indah. Pun sampai puncak. Tetap indah. “Kita bisa lihat savana yang terhampar di bawah indah sekali,” ujarnya.

Semeru berada di sebelah Gunung Bromo di Jatim –Soe Hok Gie meninggal di sini. “Danau Ranuyoso itu indah sekali,” ujar Rocky.

Alat-alat panjat gunung itu tertata rapi di rumahnya itu: digantung di paku-paku di sebelah gasebo kedua. “Yang ini alat untuk menggelantung di tebing curam,” katanya. “Kita juga harus menggelantung di alat ini kalau lagi buang air besar,” tambahnya.

Saya pun membayangkan: mengapa ia membuat hidup begitu sulit –dari kacamata orang yang biasa menginginkan kemudahan.

Untuk ke rumah Rocky tidak sulit. Kamis sore lalu. Sudah hampir jam 5. Exit tol Jagorawinya di Sentul. Ke arah Hambalang.

Saat melewati kota Sentul saya merasa seperti lagi di Boulder dekat Denver, lereng timur Rocky Mountain, Amerika. Sentul itu indah sekali. Juga tertata dengan apik. Pohon-pohonnya menyenangkan.

Oh ada IKEA di situ. Oh ada Aeon mall yang sangat besar. Saya pernah ceramah di masjidnya Syafi’i Antonio di situ, tapi rasanya, Sentul waktu itu belum seindah sekarang.

Saya mengagumi Sentul.

Pemandangan masih terus indah di kawasan yang terus menanjak dan berkelok. Terlihat banyak kastil megah di kawasan ini. Lalu masuk kampung lama. Jalan menyempit. Berliku. Menanjak. Rumah, toko, dan warung berimpitan. Mendung hitam menggelayut di langit. Saya mulai khawatir hujan.

Setelah melewati dua persimpangan di jalan sempit itu inilah dia tebing itu. Yang jadi rumah Rocky Gerung itu. Beberapa mobil terlihat parkir di pinggir pagarnya. Berarti lagi ada tamu. Berarti tuan rumah lagi di tempat.

Di ujung pagar itu tertancap papan pengumuman. Kelihatannya masih baru: tanah ini milik Sentul City. Sebangsa itulah. Lengkap dengan pasal-pasal hukuman bagi pelanggarnya.

Saya parkir di sebelah papan itu.

Tentu rumah Rocky tidak terlihat dari pinggir jalan. Harus masuk pagar itu dulu. Pintu pagarnya tertutup. Tidak terlihat ada kehidupan. Saya geser pintu itu. Tidak dikunci.

Di balik pintu itulah mobil setengah tua menyapa. Warna catnya gelap. Saya amati mereknya: Suzuki Escudo. Saya amati modelnya: edisi tahun 2003.

Di balik pagar itulah tebing. Curam. Tanah yang datar ya hanya sebatas yang ditempati Escudo itu. Selebihnya tebing. Jalan menuruninya setapak. Batu. Untuk ke ”situ” harus ke ”sana” dulu. Zig-zag. Agar anak tangga batunya tidak terlalu curam. Lalu jalan setapak yang curam itu bercabang: terserah mau lewat cabang yang mana.

Seseorang muncul dari balik rerimbunan yang menutupi jalan setapak itu. Ia-lah yang memberi tahu: boleh lewat yang mana saja. Itu hanya cabang pilihan: ke kiri agak jauh tapi lebih landai, atau ke kanan tapi curam. Saya pilih yang landai. Saya menyesuaikan diri dengan amal perbuatan. Saya hitung: ada 45 anak tangga untuk sampai ke rumah Rocky.

Simak berita selengkapnya ...