Ke Rumah Gus Mus, Pramoedya, Makam Kartini, dan Kenangan Naik Sepeda Saat di Madrasah Aliyah

Ke Rumah Gus Mus, Pramoedya, Makam Kartini, dan Kenangan Naik Sepeda Saat di Madrasah Aliyah Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Ini memang tulisan ringan. Bacaan santai. Hari Minggu, 21 November 2021.

Ya, wartawan handal, Dahlan Iskan, bercerita tentang perjalanannya. Selama dua hari. Ke mana saja?

Di bawah ini BANGSAONLINE.com menyajikan untuk pembaca. Selamat membaca:

DUA hari ini waktu saya habis di perjalanan. Awalnya ke Ngawi. Bisa lewat tol. Lalu tidak bertemu jalan tol lagi dua hari. Sampai kemarin petang. Baru tadi malam bisa masuk tol lagi. Juga di Ngawi. Untuk balik ke Surabaya.

Acara pertama saya ke Trinil. Di pinggir Bengawan Solo: sowan leluhur. Saya akan menuliskannya. Tidak hari ini.

Dari Trinil saya ke Cepu. Lewat tengah hutan jati: ingin melihat bandara baru Blora. Pemerintah membangun bandara di Cepu, Blora: sudah nyaris selesai. Hebat sekali. Citilink sudah akan mendarat di situ. Pada 26 November. Pakai ATR 72. Dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Untuk sementara Seminggu dua kali dulu.

Awalnya bandara itu milik Kementerian ESDM. Cepu memang salah satu pusat minyak mentah Indonesia. Letaknya jauh dari bandara Semarang, Surabaya, maupun Solo.

Sudah lebih 30 tahun bandara Migas itu tidak dipakai lagi. Lalu diserahkan ke Kementerian Perhubungan. Dua tahun lalu. Untuk diperpanjang. Landasan 1.200 meter itu pun menjadi 1.500 meter.

Namanya: Bandara Ngloram. Itu diambil dari nama desa setempat. akan mengusulkan nama baru: Bandara Gus Dur.

Saya ditemani Kepala Bandara Cepu Ariadi. Rupanya ia spesialis merintis bandara perintis. Tugas pertamanya di bandara baru Anambas, di Natuna. Lalu pindah ke bandara baru di pulau Karimunjawa. Dan kini di Cepu.

"Di Cepu badan saya langsung naik," ujarnya.

Dekat bandara itu ada opor enak. Yang santannya sekental susu kental manis yang agak diencerkan. Saya sampai menghabiskan ayam opor itu tiga potong.

Makan di situ tidak boleh go show. Harus inden dulu. Setidaknya sehari sebelumnya. Pak Arief Rohman yang melakukan inden. Sang bupati adalah ''bagian marketing'' opor ayam Blora itu. Siapa pun tamunya, opor itu yang dipromosikan.

Dari opor saya ke Randublatung. Itu nama kecamatan ketiga terbesar di Blora. Ini untuk kali ketiga saya ke Randublatung. Yang pertama sekitar 55 tahun lalu. Naik sepeda dari kampung saya di Takeran, Magetan. Ke rumah teman satu kelas di Madrasah Aliyah yang asalnya dari Randublatung. Begitu indahnya masa-masa di SMA. Naik sepeda berdua begitu jauh lewat hutan jati terbesar di Indonesia.

Cepu-Randublatung hanya 28 Km. Tapi harus menghabiskan waktu 1 jam. Sepanjang jalan itu rusak melulu. "Kok tidak diperbaiki?" tanya saya kepada yang duduk di sebelah saya.

"Ini jalan provinsi," katanya. Sebagai bupati Blora ia tidak boleh menggunakan anggaran daerahnya untuk memperbaiki jalan provinsi.

Hanya Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah yang tampak hebat: memperbaiki jalan negara dengan biaya kabupaten. Yakni perbaikan jalan besar antara Bojonegoro-Babat.

Di Randublatung saya harus memberikan pandangan: madrasah Pesantren Sabilil Muttaqin ini harus berkembang membangun perguruan tinggi atau berkembang membangun madrasah internasional. Meskipun pembina, saya hanya memberikan pilihan-pilihan. Terserah saja mau diputuskan yang mana. Alifa Nur Fitri, pimpinan madrasah di Randublatung itu, saya nilai sangat mampu membuat keputusan terbaik untuk daerah miskin itu.

Dari Randublatung saya menuju Blora: ke rumah Ananta Toer.

"Lho, ke sini lagi," sapa Soesilo Toer. Ia masih sangat sehat. Pendengaran dan penglihatannya masih sangat baik: umurnya 85 tahun. Ia masih terus menerbitkan buku baru. Juga masih bisa bercanda: "Saya ini sudah memenangkan nobel," katanya. " kan baru diusulkan. Saya sudah mendapatkannya. Sekaligus tiga nobel," tambahnya.

Yang dimaksud nobel oleh Soes ternyata noni Belanda. Bukan berarti Soes pernah mendapatkan tiga nona Belanda sekaligus. Tiga nobel yang ia maksud adalah: Nona Belanda, nona Belgia, dan nona Belarusia.

Soesilo Tour, adik Pram, memang lama di Rusia. Sampai mendapat gelar S-3. Selama di sana juga keliling Eropa. Ia baru pulang ke Indonesia tahun 1973 –langsung ditangkap.

Dari Blora saya ke Rembang. Lewat hutan jati lagi. Tapi sang bupati masih harus promosi satu kuliner lainnya: sate kambing Daman. Dekat Alun-Alun Blora. Ampun-ampun larisnya. Satu hari sampai memotong empat kambing. Ada juga sate ayam: 40 ekor ayam sehari.

"Gaji bupati kalah dengan penghasilan dia," ujar sang bupati. Yang ditunjuk senyum-senyum: wanita pemilik warung sate itu.

"Bukan hanya gaji bupati. Bupati dan wakilnya Di jumlah pun masih kalah," ujar Tri Yuli Setyowati, wakil bupati Blora yang ikut nimbrung di warung sate itu.

Pak baru 36 tahun. Wakil bupatinya baru 43 tahun. Itulah pasangan PKB dan PDI-Perjuangan.

Jalur Blora-Rembang itu ternyata melewati makam RA . Kami pun ziarah ke makam ibu kita itu. Saya juga akan menuliskannya. Belum hari ini. Terutama karena saya bertemu dengan cucu suami RA yang baru pulang dari New York. Yakni setelah hampir 50 tahun ia tinggal di sana.

Di Rembang saya salat Magrib di masjid pondoknya (KH Mustofa Bisri), Ponpes Raudlatut Thalibin. Ternyata kami tidak boleh masuk masjid: sejak pandemi orang luar memang dilarang masuk masjid pondok. Saya kagum dengan disiplin prokes itu. Kami pun dipersilakan salat di salah satu ruang di pondok itu.

Habis salat kami sowan ke . "Kami pondok terakhir yang mengaktifkan diri setelah Covid-19 mereda," ujar . Itu pun belum 100 persen.

"Sejak pandemi pernah naik pesawat?" tanya saya.

"Belum pernah," jawabnya.

"Pernah ke Jakarta?"

"Pernah. Satu atau dua kali. Jalan darat," katanya.

Selebihnya tidak ke mana-mana. "Oh, sekali ke Jogja. Tengok Butet," tambahnya. Waktu itu, Butet Kertaradjasa, tokoh seniman Jogja itu memang dikabarkan sakit keras.

, kiai yang juga sastrawan, kini sudah kembali mengajar di pondoknya. Dua kali sehari. Ilmu tafsir Alquran dan Ilmu Hadits.

Simak berita selengkapnya ...