Catatan Jelang Konfercab PCNU Sidoarjo XXI: Optimalisasi Kader dan Aset NU untuk Kemandirian Jamiyah

Catatan Jelang Konfercab PCNU Sidoarjo XXI: Optimalisasi Kader dan Aset NU untuk Kemandirian Jamiyah Mochammad Fuad Nadjib

Oleh: Mochammad Fuad Nadjib*

Pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten yang akan diselenggarakan pada Ahad, 28 November 2021, tinggal menunggu hitungan waktu. Konfercab adalah forum tertinggi di PCNU, hal ini menjadikan momen tersebut sebagai ajang atau forum tawar menawar gagasan dan ide untuk menyuguhkan formulasi tepat untuk organisasi Islam terbesar di Kabupaten ini.

Hal ini mencakup semua aspek dalam tubuh organisasi, baik program, arah organisasi, kepemimpinan, sampai hal yang teknis terkait pengelolaan aset-aset NU, baik berupa materi maupun nonmateri dan juga berbagai hal lain baik yang berkaitan langsung dengan organisasi maupun tidak.

Ada beberapa catatan yang mungkin perlu diperhatikan sepanjang periode kepemimpinan NU di Kabupaten kemarin. Setidaknya hal ini banyak diperbincangkan warga NU di Kabupaten .

Arah Organisasi

NU di Kabupaten memang berbeda dengan NU di daerah lain. NU di Kabupaten relatif mendominasi dalam semua sendi kehidupan sosial, agama, dan juga pemerintahan. Hal ini sebenarnya sangat mudah dibaca, termasuk oleh orang awam. Kedekatan dan seakan-akan menjadi satu antara PCNU dan DPC PKB terlihat dari kantor, yang saling berbagi dalam satu atap.

Bupati bukan sekadar warga NU, namun beliau adalah Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur dan juga putra kiai pesantren yang aktif sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Banyak pengurus NU sendiri yang menjadi kepala dinas di lingkungan Kabupaten . Hal ini menjadi salah satu tolok ukur bagaimana NU walaupun tidak secara langsung 'menentukan' arah kebijakan pemerintah.

NU menjelma menjadi simbol keselamatan bagi siapa pun yang ingin bertahan dan memiliki karir. Penulis lebih memilih melihatnya dari sisi positif. Fakta tersebut di atas menunjukkan bahwa kader-kader NU tidak saja mewarnai ruang-ruang publik semata, namun juga menentukan warna. Tentu saja hal ini didasari dengan kesadaran bahwa kader NU harus mampu beradu ide dan gagasan di luar sistem serta mengambil kebijakan di dalam.

Istimewanya, NU di menjadikan banyak yang berlomba untuk menjadi atau mungkin diakui sebagai orang NU. Lumayan sesuai dengan ungkapan 'semua akan NU pada waktunya'. Terlepas dari itu semua, secara organisasi NU Kabupaten terlihat sangat dominan gerakannya, baik di ranah pemerintahan maupun di ranah sosial dan keagamaan. Maka tidak heran jika ada uangkapan “jika NU dehem maka Pemerintah akan kebingungan belum lagi berbicara.”

Kepemimpinan dan Manajemen SDM

Simak berita selengkapnya ...