DARI KANAN KE KIRI: M Mas'ud Adnan, Prof Masdar Hilmy, Ph.D, KH Hamim Kohari dan Dr Kiai Ngatawi Al Zastrow. Foto: bangsaonline.com
(Ustad Abdul Malik (panitia dan guru di Pesantren Tebuireng), M Mas'ud Adnan, dan Ngatawi Al Zastrow. Foto: bangsaonline.com)
Namun pernyataan Gus Dur terkait dua hal aspek syariat itu ternyata terpotong dalam majalah Amanah. Akibatnya Gus Dur seolah-olah hanya mengatakan bahwa Assalamu’alaikum boleh diganti selamat pagi, tanpa perspektif syariat.
“Masyarakat pun heboh. Banyak tokoh Islam dan khotib Jumat menghujat Gus Dur. Bahkan Gus dianggap kafir,” kata Mas’ud Adnan.
Pada minggu berikutnya, Majalah Amanah minta maaf dan memberikan klarifikasi atas kesalahan terpotongnya pernyataan Gus Dur itu. Majalah Amanah memang terbit seminggu sekali.
Tapi publik, terutama tokoh-tokoh Islam, lebih-lebih mereka yang diluar NU, tak peduli. Mereka terus menghujat Gus Dur. Klarifikasi Majalah Amanah dianggap hanya rekayasa. Lagi pula, banyak orang tak baca Majalah Amanah pada edisi berikutnya. Bahkan banyak orang yang samasekali tak baca Majalah Amanah tapi ikut-ikutan menghujat hanya berdasarkan informasi yang sepotong-potong.
Saat itulah, Edi Yurnaidi, wartawan yang mewawancari Gus Dur menemui cucu pendiri NU Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari itu. “Saya tahu betul karena dulu saya bekerja sebagai wartawan Majalah Amanah. Pak Edi Yurnaidi itu redaktur saya yang sering ke Surabaya. Kalau ke Surabaya saya selalu menemani. Sekarang sudah almarhum,” kata Mas’ud Adnan.
Menurut Mas’ud Adnan, Edi Yurnaidi minta maaf. Ia mengakui kesalahannya sehingga Gus Dur dihujat orang seentero Indonesia.
Lalu apa respon Gus Dur? Marah? “Ternyata tidak. Gus Dur malah bilang. Wes jarno Ed, cek ramai (biarkan Ed, agar orang ramai),” kata Mas’ud Adnan menirukan ucapan Gus Dur. “Coba tokoh lain, pasti marah-marah kepada wartawan karena dianggap merusak popularitasnya,” tambahnya.
Gus Dur, tegas Mas’ud Adnan, justru cuek, tak peduli omongan orang. Bahkan tetap santai. Padahal masyarakat ribut.
Menurut Mas’ud Adnan, Gus Dur telah banyak memberikan pencerahan terhadap bangsa Indonesia. Pemikiran dan perjuangannya telah banyak mengubah wajah republik ini, disamping memberikan teladan sebagai bapak bangsa.
“Gus Dur benar-benar pahlawan. Tapi sayangnya, ketika Gus Dur diusulkan sebagai pahlawan nasional ada elit politik yang mengganjal atau menghalangi karena faktor politik. Alasannya karena Gus Dur dulu pernah mengeluarkan dektrit membubarkan parpol tertentu,” kata Mas’ud Adnan usai acara.
Selain Mas’ud Adnan, dalam seminar yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) itu, juga tampil Dr Kiai Ngatawi Al-Zastrow, mantan asisten pribadi Gus Dur dan Prof Masdar Hilmy, Ph.D, Direktur Pascasarjana UINSA Surabaya. Sementara KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), pengasuh Pesantren Tebuireng sebagai keynote speaker. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




