Prof Dr KH Imam Ghazali Said MA dan M. Mas'ud Adnan dalam Podcast BANGSAONLINE di kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE Jalan Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Foto: bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Risywah atau uang sogok merupakan malapetaka moral bagi organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Karena selain melanggar syariat Islam juga menghalangi NU memiliki pemimpin berkualitas dan bermoral.Bahkan risywah inilah yang telah menghancurkan moral para kader NU. Ironisnya, risywah selalu terjadi dalam Muktamar NU belakangan ini.
Lalu siapa pelaku pertama risywah di dalam Muktamar NU?
BACA JUGA:
- Suami Ning Inayah Wahid Ternyata Alumnus Pesantren Tebuireng
- Ramadhan 2026: Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan Tegakkan Aturan untuk Ketertiban Umum
- Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Dorong Desa Kelola Sampah
- UMKM Pasuruan Naik Kelas: Komisi II Kawal Digitalisasi Pasar dan Bantuan Modal Pemuda-Perempuan
“Abu Hasan,” tegas Prof Dr KH Imam Ghazali Said MA, dalam Podcast BANGSAONLINE yang dipandu M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menjelaskan bahwa risywah pertama terjadi saat Muktamar ke-29 di Cipasung Jawa Barat pada 1 – 5 Desember 1994.
“Sebelumnya tak pernah ada risywah di Muktamar NU,” tegas Kiai Imam Ghazali Said.
Saat itu, tutur Kiai Imam Ghazali Said, Abu Hasan merupakan calon ketua umum PBNU yang diback up penguasa Orde Baru, terutama Presiden Soeharto. Abu Hasan yang sebelumnya tak pernah dikenal dikenal oleh orang NU tiba-tiba muncul sebagai kandidat ketua umum PBNU melawan Gus Dur.






