Kepala Cabang Bulog Mojokerto mencakup wilayah Jombang, Rusli (baju putih), saat melakukan peninjauan ke wilayah Sumobito.
"Perkiraan saya memang sebelum hari raya, petani kesulitan cari alat untuk panen (kombi), padi disawah terlalu lama juga rusak akhirnya dibeli tengkulak yang punya alat dan untun kebutuhan hari raya ya dikasihkan aja harga berapapun," paparnya.
Sementara, Kepala Cabang Bulog Mojokerto mencakup wilayah Jombang, Rusli, mengungkapkan, pihaknya bersama tim telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan.
Pengecekan dilakukan di sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang, seperti di wilayah Kecamatan Bareng, Mojowarno, Sumobito, Kesamben, Ploso, Megaluh, Tembelang yang rata-rata harga gabah di angka Rp6-6.050,00. namun ada titik sebagian kecil di harga Rp5.800,00.
"Kami tidak menginginkan harga gabah murah di lapangan karena Pemerintah sudah memutuskan kenaikan harga untuk menambah pendapatan petani, produksi meningkat. Untuk gabah kering giling dari Rp6.300,00. naik ke Rp7.400,00. dan beras medium Rp11 ribu," katanya.
Terkait adanya informasi harga gabah murah, menurutnya terdapat beberapa faktor. "Ada informasi harga gabah di bawah Rp 5000, setelah kita telusuri itu padi yang tumbang, terendam air, hasilnya gak sebagus padi yang bagus, kemudian kondisi panen hujan jadi harganya diturunkan," jelas Rusli.
"Kalau baru tumbang 1-2 hari masih bisa, tapi kalau sudah lebih dari itu pasti beda apalagi terendam air padi bisa berwarna kecokelatan, selanjutnya saat digiling muncul pletik kuning itu orang tidak mau beli dengan harga standar," imbuhnya.
Terkait dengan harga gabah Rp 5.200-5.300 di petani wilayah Jombang berdasarkan informasi yang ia terima, kondisi tersebut terjadi sebelum hari raya lebaran lalu.
"Kami mendapat statemen itu dari beberapa pengepul di Jombang jika sebelum hari raya gabah dengan harga segitu karena salah satunya alat kombi yang susah cari, dan kondisi cuaca hujan lebat," pungkas Rusli. (aan/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




