“Saya itu tidak curiga apapun terhadap penyakit anak saya, karena dari awal memang tidak ada gejala sama sekali. Saya melahirkan Cleson anak saya itu secara caesar dan ada pemotongan tali pusar. Harusnya kalau ada hemofilia ketika dipotong ada perdarahan hebat, tapi waktu itu tidak. Untuk imunisasi dasar lengkap setelah dilakukan penyuntikan juga tidak biru kulitnya. Ketika tidur kan anaknya sering terjatuh dari kasur, itu pun juga tidak ada masalah, normal-normal saja,” urai Apriliya, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, ia menceritakan jika anaknya terdiagnosa hemofilia ketika berusia 2 tahun setelah berlarian dan terbentur dari kursi sehingga mengakibatkan gusinya berdarah. Setelah kejadian tersebut Apriliya membawa anaknya ke rumah sakit tempat ia bekerja untuk dilakukan perawatan dan observasi.
Menurutnya, karena di rumah sakit tersebut tidak pernah ada kejadian seperti ini, akhirnya anak dari Apriliya disarankan untuk diperiksakan ke rumah sakit yang lebih besar yang berada di Surabaya.
"Sekitar umur 2 tahun anak saya kan sudah bisa jalan dan lari, lalu terbentur kursi akhirnya gusinya berdarah. Saya kasih vitamin untuk penghambat darah dan dikompres dengan es batu akhirnya berhenti. Tapi yang kedua juga seperti itu sampai perdarahan kemana-mana dan saya bawa ke rumah sakit selama 5 hari. Saya menceritakan riwayat yang dimiliki keluarga saya akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Dari situ diketahui jika anak saya terkena hemofilia faktor 9 dan ternyata biaya pengobatannya sangat mahal kalau tidak pakai JKN,” ucapnya.










