Karangan bunga yang menghebohkan itu. Foto: bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Kebebasaan mimbar akademik ternyata masih menjadi persoalan serius di kampus Indonesia. Faktanya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) sempat dibekukan oleh Dekan Fakultas Ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Bagong Suyanto. Tentu kebijakan pembekuan ini tak lepas dari sikap politik rektornya, Prof Dr Muhammad Nasikh, selaku pimpinan tertinggi Unair.
Yang memperihatinkan, dalam kasus ini tidak hanya menimpa BEM yang dibekukan. Tapi Presiden BEM Unair, Tuffahati Ullayyah Bachtiar, mengaku mendapatkan intimidasi usai pihaknya mengkritik Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka melalui karangan bunga.
BACA JUGA:
- Kiai Asep Berharap Indonesia Keluar dari BoP, Ketua PWNU Jabar: Kiai Asep Dibutuhkan NU
- Prabowo Undang Sejumlah Tokoh ke Istana, Bahas Isu Geopolitik
- Kesepakatan Prabowo-Trump: Produk AS Tak Perlu Sertifikasi Halal, Ini Respons LPPOM dan MUI
- Tinggal PSI, Ketum Parpol Rame-Rame Tinggalkan Gibran pada Pilpres 2029
Dilansir CNN, intimidasi tersebut berupa pesan-pesan ancaman yang diterimanya melalui panggilan telepon nomor tak dikenal, video call, serta pesan di berbagai platform media sosial.
"Saya menerima intimidasi dari beberapa orang tidak dikenal. Bentuknya macam-macam, mulai dari telepon, video call, spam chat, DM Instagram, dan sebagainya," kata Tuffa ditemui Kampus B Unair, Senin (28/10).
Menurut Tuffa, beberapa nomor tak dikenal yang menghubunginya menyampaikan narasi hampir seragam. Yakni soal keberhasilan Presiden Joko Widodo (Jokowi), hingga ucapan doa yang tidak baik kepadanya.

Tuffahati Ullayyah Bachtiar, Foto: CNN
"Narasi yang dibawakan kurang lebihnya sama semua. Mengglorifikasi program Jokowi, mengancam, mendoakan yang tidak baik," paparnya.
Salah satu pesan intimidasi itu berbunyi, 'seandainya orang tua anda yang menjadi presiden lalu diberi umpatan-umpatan bajingan-bajingan, apakah anda terima? Saya malu loh sekelas UNAIR mahasiswanya apa tidak diajarkan sopan santun dalam berbicara'.
Nomor tak dikenal lainnya juga menuliskan, 'apa anda buta apa saja pencapaian Jokowi dalam 10 tahun membangun Indonesia, salah satunya membangun infrastruktur lohh kak, program seperti BPJS, KIP, pembangunan infrastruktur sangat terasa bagi masyarakat Indonesia loh'.
Tuffa mengungkapkan ada empat sampai lima nomor yang mengirimkan pesan intimidasi melalui WhatsApp. Selain itu serangan tersebut juga bersifat personal, dengan komentar-komentar yang ditinggalkan secara terbuka di media sosial.
"Banyak sekali yang serang secara personal, sifatnya secara umum di IG (Instagram) dan bisa dibaca semua orang," kata Tuffa.
Tuffa juga menjelaskan, intimidasi serupa tidak hanya ditujukan kepadanya, tetapi juga dialami sejumlah pengurus BEM FISIP lainnya.
"Saya belum bisa memetakan secara pasti, cuma yang lapor [dapat intimidasi] kurang lebih lima orang. Semua pengurus BEM," ujarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




