Lestarikan Budaya Jawa, SMAN 2 Batu Gelar Sarasehan Menguak Filosofi Tumpeng

Lestarikan Budaya Jawa, SMAN 2 Batu Gelar Sarasehan Menguak Filosofi Tumpeng Romo Miswanto, saat menyampaikan materi filosofi tumpeng di acara sarasehan budaya, SMAN2 Batu. Foto: Agus Salimullah.

Selain itu, warna nasi tumpeng yang didominasi oleh warna kuning dan putih, kedunya punya makna yang berbeda pula. Warna putih pada nasi tumpeng melambangkan kesucian, sedangkan warna kuning lebih pada kekayaan dan moral yang luhur.

Tidak ketinggalan juga dengan filosofi lauk pauk yang ada dalam sajian tumpeng seperti ikan asin yang menggambarkan kebiasaan gotong royong, telur rebus yang bermakna kebulatan tekad, serta daging ayam yang menjadi simbol patuh terhadap Sang Pencipta.

Diungkapkan, jenis tumpeng awalnya hanya 13 jenis dan digunakan untuk berbagai kegiatan persembahan. Hingga jenis tumpeng berkembang dan saat ini ada sekitar 47 jenis tumpeng di tanah jawa.

Jenis terbaru yang masih asing di telinga yakni asrep-asrepan, tutut, among-among, duplak, robyong, sambal gepeng, pucuk mawa endog, pungkur, punar, sanggabuwana, kendhit, megana, tumbuk ageng, blawong, sewu, urub ing damar, ropoh, alus, kapuranta, manca warna, dan sembur.

Kendati jumlahnya banyak, namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yakni jumlah jenis lauk yang harus ganjil karena hal itu mengandung makna khusus, dimana nenek moyang kita memercayai bahwa angka yang ganjil itu memiliki makna yang positif.

Dirujuk dari sejarahnya, lanjut Romo Miswanto, sajian tumpeng sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa tradisi menyajikan nasi tumpeng tidak terlepas dari jejak nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Menariknya, tradisi ini tidak lekang oleh waktu, alias masih tetap dilakukan hingga saat ini. (asa/msn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO