Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Nah, saat Tuhan memberitakan kondisi macam itu, lalu disusuli dengan kata istidrak, “wa lakin”. Artinya, itu semua sekadar efek dari kejadian sebenarnya, yaitu adzab yang bakal ditimpakan Tuhan atas para manusia yang durhaka. Adzab sejatinya, jauh dan jauh lebih menyakitkan daripada itu semua.
Merujuk sabab nuzul surah ini, seperti ditutur oleh Imran ibn Hushain, bahwa surah ini turun kepada Rasulullah SAW pada malam hari saat beliau bersama para sahabat sedang dalam bepergian.
Dengan suara lantang beliau berkata: Tahukah kalian hari itu (Hari guncangan kiamat dst. seperti pada ayat) hari apa?
Para sahabat menjawab serentak: hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang mengetahui.
Rasul SAW menjelaskan: Hari itu Tuhan sedang memerintahkan nabi Adam A.S. agar memilah-milah manusia menuju neraka dan yang menuju surga. Ternyata persentasenya menggunakan angka seribu. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan masuk neraka, dan yang satu masuk surga.
Mendengar paparan Rasulullah SAW tersebut, para sahabat tidak kuat menahan air matanya dan suara tangis meledak memenuhi area.
Rasulullah SAW menjadi iba hingga pada ujungnya beliau bersabda: Ya, saya berharap kalian menjadi seperempat dari penghuni surga.
Lalu para sahabat berjingkrak gembira dan teriak bertakbir.
Lalu Rasulullah SAW berkata lagi: Saya berharap kalian semua menjadi sepertiga dari total penghuni surga. Kembali, para sahabat berjingkrak gembira dan bertakbir lebih kencang.
Sebentar suasana menjadi hening dan Rasulullah SAW berkata lagi: Saya – selanjutnya – berharap agar kalian mendominasi separuh dari total penghuni surga. Waw, mereka semakin bergembira dan bertakbir makin seru dan lama.
“Saya tidak tahu, apakah Rasulullah SAW melanjutkan dan menyebut “dua pertiga” atau cukup sampai separuh itu saja, saya lupa,” begitu tutur Imran ibn Hushain meragukan persentase yang dipaparkan nabi SAW.
Yang jelas, para sahabat sangat puas dengan pemaparan Rasulullah SAW tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




