Tafsir Al-Hajj 32-33: Hajar Aswad Bukan Batu Bumi

Tafsir Al-Hajj 32-33: Hajar Aswad Bukan Batu Bumi Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 32-33. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

32. Żālika wa may yu‘aẓẓim sya‘ā'irallāhi fa innahā min taqwal-qulūb(i).

Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.

33. Lakum fīhā manāfi‘u ilā ajalim musamman ṡumma maḥilluhā ilal-baitil-‘atīq(i).

Bagi kamu padanya (hewan hadyu) ada beberapa manfaat, sampai waktu yang ditentukan, kemudian tempat penyembelihannya berada di sekitar al-Bait al-‘Atīq (Tanah Haram seluruhnya).

TAFSIR

Ayat nomor 33 ini sejatinya lebih bertutur tentang al-budn, unta yang hendak dijadikan qurban atau dam. Di mana penyembelihannya harus ditunaikan di tanah haram, atau dekat ka’bah atau seputar al-Bait al-Atiq. “tsumm mahilluha ila al-bait al-atiq”.

Ada perbedaan makna antara “Mahill” dengan “mahall”. Mahal, artinya tempat, posisi, sedangkan mahil artinya tempo, batas waktu. Itu sekedar bahasa yang orientasinya pada isim makan, keterangan tempat dan zaman, keterangan waktu. Dan ini bisa dipadukan.

Al-Bait al-atiq. Rumah kuno. Sebutan dari Ka’bah. Juga disebut Baitullah, Rumah Tuhan. Ka’bah artinya kubik, persegi empat dengan bentuk kubus, kubik, tapi sisi-sisinya tidak simetris. Pada rukum Yamani, ada hajar aswad. Batu kecik berwarna hitam.

Katanya dulu hajar itu berwarna putih cerah bak pualam yang dipasang sebagai barometer perbuatan manusia. Semakin manusia berbuat dosa, hajar itu semakin menghitam. Besarnya seukuran biji kurma. Kini ditanam di situ, kuatir dicukili. Dulu, Rasulullah SAW mencium sebagai penghormatan, hingga Umar ibn al-Khattab ngedumel, tapi ikut mencium:

“Hai batu. Aku tahu engkau hanyalah batu dan tidak ada manfaat apa-apa. Andai aku tidak melihat sendiri beliau mencium kamu, aku tidak sudi mencium kamu”. Umar segera pergi setelah mencium dan memaki-maki. Diriwayatkan, bahwa batu itu tidak sembarang batu, bukan batu bumi, melainkan batu dari surga. (?)

Dialah Richard Fransisco Burtom, ilmuwan Eropa yang terkenah sebagai ahli watu-watuan dan giologik. Pada tahun 1853, Rachard pergi ke Makkah dan menyamar sebagai jamaah haji, padahal kafir. Di sana, dia tinggal beberapa waktu dan tekun sekali berthawaf mengelilingi Ka’bah, meski punya niat busuk.

Saat polisi panjaga ka’bah lengah, dia segera mencuri hajar aswad tersebut dan segera pulang. Dulu, masih gampang dicuri, bahkan pernah bertahun-tahun ka’bah tanpa hajar aswad, karena ketegangan politik.

Di negaranya, Richard segera meneliti hajar aswad tersbut ke laboratorium di sana yang tergolong sangat canggih kala itu. Hasilnya, bahwa hajar aswad sama sekali bukan jenis batu planet bumi ini. Tidak ada unsur satu pun yang mirip dengan batu bumi. Dengar-dengar, akhirnya dia bersyahadat dan hajar aswad dikembalikan. Allah a’lam.