Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 30-31. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
30. Żālika wa may yu‘aẓẓim ḥurumātillāhi fa huwa khairul lahū ‘inda rabbih(ī), wa uḥillat lakumul-an‘āmu illā mā yutlā ‘alaikum fajtanibur-rijsa minal-auṡāni wajtanibū qaulaz-zūr(i).
Demikianlah (petunjuk dan perintah Allah). Siapa yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt) lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Semua hewan ternak telah dihalalkan bagi kamu, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya). Maka, jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhi (pula) perkataan dusta.
31. Ḥunafā'a lillāhi gaira musyrikīna bih(ī), wa may yusyrik billāhi fa ka'annamā kharra minas-samā'i fa takhṭafuhuṭ-ṭairu au tahwī bihir-rīḥu fī makānin saḥīq(in).
(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Siapa yang mempersekutukan Allah seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.
TAFSIR
Ayat ke 31 al-hajj ini mentamsilkan kekadaan orang musyrik di akhirat nanti. Yaitu bagai orang yang tersungkur jatuh dari ketinggian, lalu disambar oleh burung-burung ganas, dicabik-cabik, dan pada akhirnya dihempaskan oleh angin dahsyat terpental ke tempat yang sangat jauh. “fa ka’annama kharr min al-sama’ fatakhthafuh al-thair aw atahwi bih al-rih fi makan sahiq”.
Tamsilan ini memberi peringatan kepada mereka yang durhaka kepada Tuhan, bahwa di hari akhir nanti tiada perlindungan, tiada penolong, tiada daya apapun selain sentuhan tangan-Nya Sendiri. Semua menjadi mengerti, bahwa hanya Dia Dzat yang maha kuasa. Kekuasaan dan harta melimpah di dunia tiada arti apa-apa dan bukan apa-apa.
Kecuali mereka yang beriman dan selalu konsis di jalan Tuhan, “hunafa Lillah”, maka merekalah yang konsis dan mampu menguasai diri di hadapan-Nya berkah rahmat Dari-Nya. Meski wajah merunduk, tapi jemarinya bisa digerakkan menengadah dan mulutnya bisa komat-kamit memohon kabajikan. Pada akhirnya Tuhan-pun hadir dan mempersilakan mereka segera menempati surga mewah yang sudah lama dipersiapkan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




