Adjie A Faraby saay merilis survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Foto: istimewa
Kedua, ungkap Adjie A Faraby, pertumbuhan ekonomi juga di bawah target. Di kuartal ini, kata Adjie, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat di bawah 5%, terlalu lemah untuk menyerap tenaga kerja secara masif. “Dalam politik ekonomi, angka 5% adalah garis batas antara harapan dan kekhawatiran,” jelas dia.
Ketiga, ekspektasi yang terlampau tinggi. Menurut dia, terpilihnya Prabowo dengan dukungan besar memantik harapan rakyat yang menjulang. Namun, teori psikologi politik mengingatkan semakin tinggi harapan, semakin keras bunyi kecewa saat realitas belum menyusul.
Keempat, gelombang PHK masif. Kata Adjie, hanya dalam dua bulan pertama tahun ini (1 Januari-10 Maret), sebanyak 73.992 kasus PHK tercatat oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia. Di balik angka itu ada cerita anak putus sekolah, cicilan rumah macet, dan warung yang tak jadi buka.
“PHK tak hanya melanda buruh, industri hotel dan restoran, tapi juga pekerja intelektual seperti wartawan,” kata Adjie.
Namun demikian, Adjie menyampaikan alasan mengapa kepuasan tetap tinggi di tengah dua rapor merah Pemerintahan Prabowo-Gibran tersebut. Kata dia, paradoks ini menarik meski tekanan ekonomi dirasakan luas, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan juga tetap tinggi.
Menurut Adjie, ada empat penjelasan untuk fenomena ini, di antaranya popularitas personal. Kata dia, Prabowo memiliki tingkat pengenalan publik sebesar 98% dan kesukaan 94,4%. Dalam komunikasi politik, citra pribadi kerap menjadi benteng kokoh terhadap kritik di awal masa pemerintahan.
“Kedua, efek honeymoon politik. Kata dia, 6 hingga 12 bulan pertama adalah fase bulan madu antara rakyat dan kekuasaan. Ini momen ketika optimisme menahan kegelisahan, dan publik masih memberi waktu,” ujarnya.
Ketiga, lanjut Adjie, persepsi arah yang benar. Sebanyak 81% responden merasa Indonesia sedang berada di jalur yang tepat. Meski hasil konkret belum tampak, arah yang dirasa benar memberi ruang harapan.
“Keempat, ketiadaan oposisi yang memikat. Hingga kini, belum muncul gagasan besar dari oposisi seperti PDIP atau Anies Baswedan yang mampu menyaingi narasi dominan pemerintah,” katanya lagi.
Survei ini memiliki margin of error ±2,9% dan diperkuat dengan riset kualitatif, wawancara mendalam, FGD, dan analisis media.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




