Gubernur Khofifah di upacara Sumpah Pemuda ke-97.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Khofifah memimpin langsung upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 yang digelar di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Selasa (28/10/2025).
Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur untuk bersama-sama membentuk generasi muda yang berdaya, tangguh, dan berkarakter sebagai pilar utama menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu sejalan dengan tema peringatan tahun ini, “Pemuda Pemudi Berdaya, Jawa Timur Tangguh, Indonesia Maju'.
BACA JUGA:
- Gubernur Khofifah Salurkan BLT DBHCHT Rp2,5 Miliar untuk 2.508 Buruh Linting Sampoerna Rungkut II
- Produksi Padi Jatim Naik, Gubernur Khofifah Optimis Surplus Beras
- Jadi Guest Lecture Dies Natalis ke-39 UHT, Khofifah: SDM Maritim Unggul untuk Gerbang Baru Nusantara
- Ekonomi Jatim Tumbuh 5,96 Persen, Tertinggi di Pulau Jawa
“Tahun ini peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak hanya berfokus pada upacara semata. Pemerintah Provinsi Jawa Timur ingin memberikan ruang nyata bagi para pemuda untuk berkontribusi dan menunjukkan peran aktifnya dalam membangun daerah,” kata Gubernur Khofifah.
Ia menyebut, Jawa Timur tengah berada dalam momentum bonus demografi, dengan komposisi penduduk usia muda mencapai 20,87 persen atau lebih dari 8 juta jiwa. Menurut dia, potensi ini harus dimanfaatkan sebagai kekuatan sosial dan intelektual dalam pembangunan.
“Pergerakan pemuda bukan hanya sekadar idealisme, melainkan kebutuhan vital dalam pembangunan daerah dan bangsa,” tuturnya.
Khofifah juga memaparkan capaian Jawa Timur di sektor pendidikan dan kesehatan, termasuk prestasi siswa SMA/SMK dan Aliyah yang sejak 2019-2025 tercatat sebagai yang tertinggi diterima di Perguruan Tinggi Negeri secara nasional.
“Jagalah prestasi ini anak-anakku. Teruslah belajar dengan baik, jauhi narkoba. Setuju?” ujarnya disambut seruan 'setuju' dari peserta upacara.
Ia menambahkan, pemuda Jatim harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi dinamika lokal hingga global, dengan karakter kebangsaan yang kuat, semangat kebhinekaan, persatuan, dan gotong royong.
“Ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar kata-kata, melainkan semangat yang mengikat seluruh anak bangsa dalam satu tekad,” imbuhnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




