Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat menghadiri Deklarasi Anak Surabaya Digital Aman dan penandatanganan Tri Darma Digital secara serentak, Kamis (27/11/2025). Foto: Hms
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Menandai momentum Hari Anak Internasional, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan komitmen serius untuk membatasi paparan konten digital berbahaya bagi pelajar. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, secara tegas menyoroti bahaya game daring yang mengandung unsur kekerasan dan dampaknya terhadap pembentukan mental generasi penerus kota.
Komitmen ini diresmikan melalui Deklarasi Anak Surabaya Digital Aman dan penandatanganan Tri Darma Digital secara serentak, Kamis (27/11/2025). Kegiatan kolaboratif ini melibatkan BNN, Densus, Kepolisian, Komnas Perlindungan Anak, NGO, dan berbagai pihak lain, yang berfokus pada pengawasan ketat penggunaan konten digital oleh anak-anak.
BACA JUGA:
- Wali Kota Eri Cahyadi Tunjuk Wawali Armuji dan Syamsul Hariadi Isi Posisi Plh Selama Ibadah Haji
- Kado HJKS ke-733, Pemkot Surabaya Tambah Empat Mobil Perpustakaan Listrik
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Bukan Cagar Budaya Asli, Pemkot Surabaya Hapus Status dan Bongkar Fasad Eks Toko Nam
Wali Kota Eri menekankan bahwa ancaman game digital, mulai dari simulasi perampokan hingga konten yang secara halus memperkenalkan perilaku seperti penyalahgunaan zat terlarang dalam alur permainan, dapat mengontaminasi pola pikir anak.
"Permainan daring yang berbau kekerasan sangat berbahaya karena dapat mengontaminasi pola pikir dan membentuk karakter anak menuju hal-hal yang tidak baik. Game-game ini bahkan secara halus memperkenalkan perilaku berbahaya, dan ini tanpa disadari membenarkan tindakan negatif dalam pikiran anak,” terang Wali Kota Eri.
Menurut Wali Kota Eri, demi menyelamatkan potensi anak-anak yang kelak akan memimpin Surabaya, Pemkot Surabaya bertekad mengembalikan pola pikir mereka ke jalur yang positif. Fokus perlindungan ini tidak hanya menyasar pelajar SMP, tetapi juga SD, dengan perhatian khusus ditujukan kepada peran orang tua.
“Orang tua tentu memiliki harapan besar terhadap prestasi anak. Namun, keseimbangan antara akademik dan interaksi sosial tetap penting agar anak dapat tumbuh dengan karakter dan mental yang kuat. Lingkungan yang baik dan suportif menjadi bagian penting dalam proses tersebut," jelasnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




