Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, ketika menyampaikan mauidzah hasanah dalam acara peringatan 100 hari wafatnya KH Koko Komaruddin Ruhiat, di Pondok Pesantren Cipasung Ciapakat Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, Kamis (27/11/2025). Foto: MMA/bangsaonline
TASIKMALAYA, BANGSAONLINE.com – Ternyata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pernah mondok di Pondok Pesantren Cipasung, Cipakat, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
“Saya juga alumni Cipasung. Saya pernah mondok tiga bulan disini,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, ketika menyampaikan mauidzah hasanah dalam acara peringatan 100 hari wafatnya KH Koko Komaruddin Ruhiat, di Pondok Pesantren Cipasung Ciapakat Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, Kamis (27/11/2025).
Pengakuan Kiai Asep itu langsung mendapat tepuk tangan para kiai dan santri yang memenuhi aula pesantren. “Dulu masjidnya dua lantai. Di sebelah masjid ada balong,” tambah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.
Kiai Asep juga bercerita pernah mengaji kitab ke Kiai Ruhyat. Diantaranya Kitab Al-Imrithi, yakni kitab yang membahas gramatika Bahasa Arab tingkat menengah. Kitab ini disusun oleh Syaikh Syarafuddin Yahya al-Imrithi, seorang ulama abad ke-16 dari Mesir. Kitab ini banyak dipelajari di pesantren untuk mempermudah santri menghafal kaidah tata bahasa Arab.
Menurut Kiai Asep, Kiai Ruhiat sakti.
“Karomah Kiai Ruhiat itu terlihat saat didatangi gerombolan DII/TII,” ungkap kiai miliarder tapi dermawan itu.
Kiai Asep mengaku pernah mendengr cerita, DII/TII mau mempengaruhi Kiai Ruhiat agar mengikuti langkah politik mereka. Tapi Kiai Ruhiat menolak.
“Karena Kiai Ruhiat memang NU,” tutur Kiai Asep.
Tapi orang-orang DII/TII itu memaksa. Mereka mau membawa Kiai Ruhiat ke gunung.
“Kalau saya dibawa ya bawa,” kata Kiai Rihiat kepada orang-orang DII/TII itu seperti ditirukan Kiai Asep. “Tapi ketika tempat didurnya diangkat tak bisa. Berarti Allah tidak mengizinkan,” kata Kiai Ruhiat kepada mereka.
Menurut Kiai Asep, pandangan Kiai Ruhiat tentang negara adalah tipikal NU.
“Negara harus diselesaikan dengan musyawarah,” ujar Kiai Asep. “Negara sistem perwakilan,” tambah putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.
Selain itu, tegas Kiai Asep, NU adalah mudarah (moderat) dan rahmatan lil’alamin.
“Karena saat itu juga ada yang berorientasi pada khilafah. Haji Oemar Said Tjokroaminoto itu khilafah,” tegas Kiai Asep.
Kiai Asep menilai, Kiai Ruhiat sangat layak mendapat anugerah gelar pahlawan.
“Kalau ada yang memproses untuk mengusulkan,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep juga mengungkap peran pesantren dalam perjuangan bangsa Indonesia. Menurut Kiai Asep, pesantren berdiri jauh sebelum ada Indonesia.
“Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia,” ungkapnya.
Pesantren Cipasung sendiri didirikan oleh Kiai Ruhiat pada 1931.
Menurut Kiai Asep, pesantren menjadi sentra-sentra perjuangan bangsa Indonesia. Sehingga banyak muncul pahlawan dari pesantren. Ia mencontohkan Kiai Zainal Mustafa. Yang kemudian dibunuh oleh tantara Jepang.
“Kiai Zainal Mustofa diambil oleh Jepang,” tegas Kiai Asep.
Kiai Zainal Mustafa adalah pahlawan nasional asal Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Kiai Zainal Mustafa dikenal sebagai pendiri Pesantren Sukamanah. Ia memimpin perlawanan terhadap penjajah Jepang. Ia menentang seikerei (membungkukkan badan kepada kaisar Jepang). Kiai Zainnal Mustafa menilai seikerei bertentangan dengan ajaran Islam. Jepang marah. Kiai Zainal Mustafa dibunuh oleh tantara Jepang. Ia gugur pada tahun 1944.
Para kiai NU, ungkap Kiai Asep, aktif dalam memberi edukasi dan penyadaran kepada masyarakat. Bahwa penjajah itu tidak baik. Karena itu muncullah Taswirul Afkar di Surabaya pada 1914. Taswirul Afkar adalah perkumpulan diskusi dan pergerakan sosial yang mengintegrasikan pemikiran keislaman dan ilmu pengetahun modern untuk memerdekakan dan menyatukan bangsa. Lembaga ini didirikan KH. Wahab Hasbullah, KH. Ahmad Dahlan Achyad, dan ulama NU lainnya. Salah seorang pengajarnya adalah KH Abdul Chalim.
Kemudian muncul Nahdlatul Wathan pada 1916. Menurut Kiai Asep, ketika terjadi perubahan politik di jazirah Arab yang mengancam penghancuran situs-situs Islam dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, terutama ajaran 4 imam madzhab, para kiai yang sekaligus aktivis Taswirul Afkar dan Nadhaltul Wathan merespons.
“Atas arahan Hadratussyaikh Kiai Muhamamd Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah dan abah saya, Kiai Abdul Chalim, kemudian mengundang para kiai,” kata Kiai Asep.
Saat membuat surat undangan itu, tutur Kiai Asep, Kiai Abdul Chalim, bertanya kepada Kiai Wahab Hasbullah, apakah dalam surat undangan itu tidak sekalian disebutkan bahwa tujuannya adalah untuk kemerdekaan bangsa.
“Kiai Wahab menjawab, tentu itu yang utama,” kata Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, sekitar 65 kiai berkumpul di Surabaya. Mereka berasal dari seluruh Jawa dan Madura plus Kalimantan dan daerah lainnya.
“Bahkan ada juga ulama asal Mesir Akhmad Ghanaim,” kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa 65 ulama itu kemudian membentuk komite Hijaz.
Komite Hijaz ini diutus untuk menemui Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud. Tujuan utamanya adalah meminta perlindungan kebebasan bermazhab dan mencegah penggusuran makam Nabi di Mekah.
Tapi diantara ulama itu kemudian ada yang bertanya atas nama apa utusan itu menemui Raja Ibnu Saud. “Kalau atas nama komite atau panitia pasti tak akan direrima oleh raja Abdul Aziz” kata Kiai Asep. “Kemudian Kiai Akhyad mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Nahdlah diambil dari Nadhatul Wathan, sedangkan Ulama diambil dari 65 ulama yang berkumpul itu,” kata Kiai Asep.
Rapat yang berlangsung pada 31 Januari 1926 di Surabaya itu kemudian tercatat sebagai cikal bakal lahirnya NU.
Menurut Kiai Asep, pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memprolamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi penjajah tak rela. Mereka masih berusaha untuk bercokol di Indonesia.
“Bahkan kemerdekaan ini hampir lepas seandainya tidak ada perjuangan ulama NU dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu.
“Karena perjanjian demi perjanjian selalu merugikan Indonesia. Termasuk perjanjian Linggar Jati,” kata Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, saat itu para pemimpin Indonesia di Jakarta seperti Soekarno dan Hatta selalu beroientasi pada perjuangan diplomatik. Padahal semua perjuangan diplomatik seperti perjanjian Renville, Linggar Jati dan seterusnya selalu merugikan Indonesia.
“Jawa Barat pun dikuasi oleh penjajah,” kata Kiai Asep.
Begitu juga Jawa Timur. Banyak wlayah garis Van Mook dikuasai penjajah.
“Di Jawa Timur Kiai Muhammad Yusuf Hasyim yang merebut garis Van Mook dari penjajah,” kata Kiai Asep.
Karena itu Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari memilih perjuangan fisik untuk mengusir penjajah.
“Karena itu Panglima Soedirman sering ke Pesantren Tebuireng,” ungkap Kiai Asep sembari mengatakan bahwa Panglima Soedirman lebih memilih jalan perang atau perjuangan fisik untuk mengusir penjajah.
Begitu juga Bung Tomo. Menurut Kiai Asep, Bung Tomo juga sering ke Pesantren Tebuireng untuk minta taushiah atau fatwa kepada Hadratussyaikh. Bahkan Bung Tomo inilah yang bertanya kepada Hadratussyaikh kapan kita melakukan serangan untuk mengusir penjajah karena saat itu tentara Inggris yang berlabuh di Pelabuhan Perak telah masuk ke tengah kota Surabaya.
“Hadratussyaikh menjawab tunggu Kiai Abbas Abdul Jamil dari Buntet,” kata Kiai Asep.
Pada 9 November 1945 Kiai Abbas tiba di Pesantren Tebuireng.
“Kiai Abbas menentukan tanggal 10 November menyerang. Maka seusai shalat Subuh Kiai Abbas bersama kiai dan santri berangkat ke Surabaya untuk melakukan serangan,” kata Kiai Asep.
Meletuslah pertempuran 10 November 1945. Banyak santri meninggal.
“Sekitar 30.000 mayat bergeletakan di Sungai Kalimas di Jembatan Merah Surabaya. Ini menurut sumber-sumber primer, termasuk The New York Time,” kata Kiai Asep.
Namun dalam perang 10 November itulah Inggris kehilangan jenderal terbaiknya. Yaitu Jenderal Mallaby.
“Jenderal Mallaby dibunuh tiga santri Tebuireng,” kata Kiai Asep sembari mengatakan bahwa Soekarno dan Muhamamd Hatta kemudian menyetujui juga perang fisik yang ternyata membawa kemenangan.
“Semula Bung Karno dan Bung Hatta tak setuju perang fisik karena pertimbangan persenjataan kita kalah dengan senjata tentara Inggris,” kata Kiai Asep.
Tapi Hadratussyaikh mampu menggelorakan semangat perjuangan umat Islam melalui Resolusi Jihad. Dalam Resolusi Jihad, hukumnya fardhu 'ain (wajib) bagi setiap Muslim berperang bagi mereka yang berada dalam radius 94 kilometer dari posisi musuh. Mereka yang berada di luar radius tersebut wajib membantu dengan bentuk material.












