Dari Teks Prosedur ke Lokapasar Digital: Menghidupkan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dari Teks Prosedur ke Lokapasar Digital: Menghidupkan Pembelajaran Bahasa Indonesia Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang, Distri Adi Setiawan.

Oleh: Distri Adi Setiawan

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah sering kali terasa dekat secara materi, tetapi jauh dari kehidupan nyata siswa. Salah satu contohnya adalah teks prosedur. 

Materi ini hampir selalu diajarkan di setiap jenjang, namun tidak jarang dipahami sebatas tugas menulis dengan pola yang sama, yakni menentukan struktur, mencatat ciri kebahasaan, lalu menulis teks prosedur berdasarkan contoh di buku.

Akibatnya, teks prosedur kerap kehilangan maknanya. Siswa menulis karena kewajiban akademik, bukan karena kebutuhan berbahasa. Padahal, jika dicermati lebih jauh, teks prosedur justru sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Kita menjumpainya dalam resep makanan, petunjuk penggunaan barang, hingga panduan layanan digital. Semua itu menuntut kemampuan berbahasa yang jelas, runtut, dan mudah dipahami.

Di era digital saat ini, teks prosedur bahkan memiliki peran yang lebih luas. Banyak produk rumahan, usaha kecil, dan konten kreatif bergantung pada kemampuan menjelaskan proses secara baik agar orang lain tertarik dan memahami cara kerjanya. Kondisi ini seharusnya menjadi peluang bagi pembelajaran Bahasa Indonesia untuk bergerak lebih kontekstual dan relevan. 

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan pembelajaran teks prosedur dengan kewirausahaan digital melalui pemanfaatan Google Sites sebagai lokapasar mini. Dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya diminta menulis teks prosedur, tetapi juga mengaitkannya dengan produk nyata yang mereka buat sendiri, lalu mempublikasikannya secara daring.

Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa diajak merancang produk sederhana, seperti makanan olahan, minuman herbal, atau kerajinan tangan. Proses pembuatan produk tersebut kemudian dituangkan ke dalam teks prosedur yang jelas dan sistematis. 

Teks inilah yang selanjutnya ditampilkan dalam Google Sites sebagai etalase digital produk siswa. Pendekatan ini membuat pembelajaran teks prosedur terasa lebih hidup. 

Siswa menyadari bahwa teks yang mereka tulis memiliki fungsi nyata: membantu orang lain memahami proses dan tertarik pada produk yang ditawarkan. Kesalahan dalam urutan langkah atau penggunaan bahasa yang tidak tepat tidak lagi sekadar kesalahan tugas, tetapi berpengaruh langsung pada pemahaman pembaca.

Selain menguatkan keterampilan berbahasa, pembelajaran ini juga menumbuhkan literasi digital dan jiwa kewirausahaan. Siswa belajar menggabungkan teks dengan visual, memilih kata yang persuasif, serta menyajikan informasi secara menarik dan bertanggung jawab. 

Mereka juga belajar bekerja sama, berdiskusi, dan mengambil keputusan dalam kelompok. Bagi guru, model pembelajaran ini dapat menjadi alternatif inovatif yang sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka. 

Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi memberi ruang bagi siswa untuk bereksplorasi, berkreasi, dan menghasilkan karya nyata. Bahasa Indonesia pun tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan keterampilan hidup yang dibutuhkan siswa di masa depan.

Tentu, pembelajaran berbasis proyek semacam ini membutuhkan pendampingan yang tepat. Guru tetap perlu memastikan bahwa aspek kebahasaan seperti struktur teks, pilihan kata, dan keefektifan kalimat menjadi fokus utama. 

Teknologi tidak boleh menggantikan tujuan pembelajaran, melainkan menjadi sarana untuk memperkuatnya. Pada akhirnya, mengajarkan teks prosedur melalui lokapasar digital bukan semata-mata soal mengikuti tren teknologi. 

Lebih dari itu, pembelajaran ini merupakan upaya mengembalikan hakikat Bahasa Indonesia sebagai alat berpikir, alat berkomunikasi, dan alat berkarya. Ketika siswa menyadari bahwa teks yang mereka tulis dapat digunakan, dibaca, dan dimanfaatkan orang lain, pembelajaran bahasa tidak lagi terasa jauh dari kehidupan mereka.

Model pembelajaran seperti ini patut dipertimbangkan sebagai salah satu cara menghidupkan kembali kelas Bahasa Indonesia, kelas yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberi pengalaman belajar yang bermakna dan relevan dengan zaman.

Penulis merupakan Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang