Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat menyampaikan taushiyah dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kiai Santri Nasional Sulawesi Selatan (JKSN) Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Kamis (5/2/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
MAKASSAR, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, terus berusaha untuk menggugah kesadaran masyarakat – terutama para kiai pesantren – tentang pentingnya meningkatkan ekonomi rakyat. Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mengajak para ulama dan kiai pesantren untuk introspeksi tentang out put pesantren dalam menjawab kebutuhan zaman modern. Menurut Kiai Asep, pesantren harus melahirkan ulama, pemimpin, profesional serta konglomerat besar yang punya komitmen untuk meningkatkan ekonomi rakyat.
Hal itu disampaikan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat menyampaikan taushiyah dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kiai Santri Nasional Sulawesi Selatan (JKSN) Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Kamis (5/2/2026).
“Pesantren harus melahirkan konglomerat besar. Konglomerat yang sekarang ini tidak memihak rakyat,” tegas kiai miliarder tapi dermawan itu di depan para pengurus Pergunu dan JKSN yang datang dari berbagai kabupaten se-Sulsel.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi tampak hadir dalam acara itu Kepala Wilayah Kementerian Agama RI Kalimantan Selatan Ali Yafid dan Dr. K.H. Amirullah Amri, M.A. ulama terkemuka Sulsel yang juga pendiri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Ilmul Yaqin Tompobulu, Maros. Kiai Amrullah juga Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel dan Ketua Harian Masjid Kubah 99 Asmaul Husna Makassar.
Juga hadir Sekjen PP Pergunu Dr Aris Adi Laksono, Ketua PW Pergunu Sulsel Dr Muhammad Yunus, Sekjen JKSN Muhammad Ghofirin, dan lainnya.
Selain itu, tegas Kiai Asep, pesantren juga harus melahirkan ulama dan pemimpin besar serta professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.
Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu juga mengingatkan agar jangan sampai Indonesia menjadi seperti Singapura.
“Sekarang penduduk Melayu di Singapura tinggal 11 %,” kata Kiai Asep. Padahal penduduk Melayau adalah penduduk asli Singapura.
Menurut Kiai Asep, penduduk asli Singapura terusir dari tanah airnya karena faktor ekonomi dan politik. Kiai Asep mengingatkan bahwa Indonesia bisa mengalami seperti Singapura jika kita tidak waspada dan introspeksi diri. Kondisi Indonesia sekarang 70 % ekonomi dikuasasi WNI keturunan.
Apakah pesantren bisa melahirkan ulama, pemimpin, professional dan konglomerat besar yang punya kepedulian terhadap rakyat? Menurut Kiai Asep, justru hanya pesantren yang bisa melahirkan konglomerat peduli terhadap rakyat.
“Karena (lembaga pendidikan) yang punya waktu lama (siang-malam) hanya pesantren. Kalau SMA Negeri tak mungkin,” tegas putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.
Kiai Asep menyebut ulama, pemimpin, konglomerat dan professional itu sebagai empat komponen bangsa.
“Ini yang menjadi the goal of graduates Amanatul Ummah,” ujar kiai yang belum lama berselang mendapat penghargaan Bintang Maha Putra Nararya dari Presiden Prabowo Subianto.
Kiai Asep optimistis pesantren bisa melahirkan empat komponen bangsa tersebut dengan catatan pesantren melakukan transformasi.
“Amanatul Ummah telah melakukan transformasi,” ujar kiai yang gemar memberikan sarung dan uang itu.
Salah satu bukti Amanatul Ummah telah melakukan transformasi sistem pendidikan karena pesantren yang didirikan Kiai Asep pada 2006 itu mampu menjawab tuntutan zaman. Sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri dan luar negeri pada Angkatan 2025.
“Kalau ukurannya kedokteran, sebanyak 65 santri Amanatul Ummah diterima di Kedokteran di perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri. Di kedokteran perguruan tinggi di Jerman, China, Unair, Unhan,” ujar Kiai Asep.
Keistimewaan pesantren yang lain, menurut Kiai Asep, terletak pada gurunya.
“Seorang guru harus selalu meningkatkan kompetensinya,” tutur Kiai Asep yang juga mendapat penghargaan dari Bank Indonesia sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Keuangan Syariah untuk Negeri.
“Seorang guru di pesantren harus menjadi teladan moral bagi muridnya,” tegas Kiai Asep lagi.
Selain itu, kata Kiai Asep, seorang guru di pesantren harus menganggap murid seperti anak kandung sendiri. “Seorang guru juga harus selalu mendoakan muridnya,” tambah Kiai Asep sembari mengatakan bahwa di SMA Negeri sulit ditemukan guru mendoakan muridnya.
Menurut Kiai Asep, murid atau santri juga harus dikondisikan. Menurut Kiai Asep, ada tujuh kunci sukses untuk murid atau santri.
“Pertama, aljiddu wal muwaddhabah,” ujar Kiai Asep. Yaitu berkesungguhan dan berketekunan.
Kedua, taqlilul ghida. Yaitu sedikit makan. Makan jika lapar, tapi berhenti makan sebelum kenyang.
“Karena kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” tukas Kiai Asep.
Ketiga, mudawamatul wudlu. Artinya, tak pernah putus wudlu. Begitu wudlu batal, segera berwudulu lagi.
“Karena ilmu itu Cahaya, dan wudlu itu juga Cahaya,” katanya. Artinya, jika Cahaya bertemu Cahaya akan mudah merasuk dan saling menembus.
Keempat, tarkul ma’ashi alias meninggalkan maksiat. “Orang yang punya dosa itu selalu beban,” ujarnya.
Kelima, qiratul Quran nadran. Yaitu membaca Al Quran dengan cara melihat bacaan Al Qurannya, bukan hafalan.
“Karena orang yang membaca al Quran dengan melihat al Qurannya pikirannya akan terlibat dalam berpikir,” tuturnya. Sehingga pikirannya aktif dan terus bekerja secara kreatif dan produktif.
Keenam, Shalatul lail. Yaitu shalat malam.
Menurut Kiai Asep, shalat malam adalah kendaaraan untuk mencapai sukses. Di Amanatul Ummah para santri tiap pukul 3.00 malam tau dini hari harus bangun untuk mengikuti shalat hajat 12 rakaat dengan enam kali salam. Kemudian dipungkasi shalat witir tiga rakaat dengan dua kali salam.
Ketujuh, santri tak boleh jajan atau beli kue di luar.
“Karena jajan di luar lebih mendekati kotor, jajan di luar lebih dekat pada najis,” ujarnya.







