Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi
Secara filosofis, ini adalah bentuk Praksis. Seperti kata Karl Marx, para filosof hanya menafsirkan dunia, namun intinya adalah mengubahnya. Kiai Asep tidak hanya "menafsirkan" kitab kuning, beliau menerjemahkannya menjadi ruang-ruang kelas, beasiswa internasional, dan jejaring ekonomi yang nyata.
Jika NU ingin tetap relevan di tahun 2045, ia membutuhkan figur yang memiliki karakter seperti Kiai Asep.
Memahami manajemen modern tanpa kehilangan aroma kemenyan dan doa.
Literasi Global: Santri tidak boleh hanya jago berdebat di forum Bahtsul Masa’il, tapi juga harus mampu bernegosiasi di forum PBB atau Silicon Valley.
Ketahanan Mental. Dalam dunia yang penuh dengan depresi dan krisis identitas, model pendidikan Kiai Asep yang menekankan kedekatan dengan Sang Khalik menjadi penawar bagi kegersangan eksistensial.
Simpulan: Menjadi Subjek Sejarah
Jadi, apa yang dilakukan Kiai Asep adalah sebuah pemberontakan terhadap rasa rendah diri. Beliau membuktikan bahwa pesantren bukan museum masa lalu, melainkan laboratorium masa depan.
Mungkin, kita menyadari bahwa masa depan NU bukan terletak pada besarnya jumlah pengikut, melainkan pada kualitas individu-individu yang lahir dari rahim pendidikan yang memerdekakan. Kiai Asep telah memulai tenunan itu. Sekarang, tinggal bagaimana kita meneruskannya—dengan benang yang lebih kuat dan pola yang lebih berani. Wallahu'alam bishawab.
*Pengasuh Pesantren Kreatif Biatul Kilmah Yogyakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




