Kemenag: Zakat Tidak untuk Program MBG

Kemenag: Zakat Tidak untuk Program MBG Ilustrasi. Foto: Freepik

BANGSAONLINE.com - Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa penyaluran zakat tidak untuk program MBG (Makan Bergizi Gratis), dan hanya diperuntukkan bagi 8 ashnaf atau mereka yang berhak menerima manfaat zakat, sesuai dalam Surat Al-Taubah ayat 60.

“Tidak ada kebijakan zakat untuk MBG. Kami pastikan penyaluran zakat dilakukan sesuai syariat dan peraturan perundang-undangan,” ujar Kabiro HKP Kemenag, Thobib Al Asyhar.

Adapun 8 ashnaf itu terdiri atas fakir (orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar), miskin (orang yang punya pekerjaan tapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari), dan amil (petugas yang sesuai dengan ketentuan ditetapkan sebagai pengelola zakat).

Kemudian muallaf (orang yang baru masuk Islam), riqab (hamba sahaya), gharimin (orang yang terlilit hutang), fisabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah), dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).

“Prinsip ini menjadi landasan utama dalam tata kelola zakat nasional,” kata Thobib.

Menurut dia, dalam Pasal 25 UU No 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat diatur bahwa zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai dengan syariat Islam. Mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat.

Sementara pada Pasal 26 ditegaskan bahwa pendistribusian zakat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.

“Zakat adalah amanah umat yang harus dijaga dan disalurkan sesuai ketentuan syariat. Hak para mustahik adalah prioritas dalam setiap kebijakan pengelolaan dana zakat,” ucap Thobib.

Ditegaskan pula bahwa pengelolaan zakat dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel melalui lembaga resmi yang diawasi dan diaudit secara berkala, baik melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ).

“Saya mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakatnya pada lembaga pengelola zakat yang memiliki izin resmi dari pemerintah, baik Baznas maupun LAZ. Untuk akuntabilitas, kinerja mereka juga diaudit oleh auditor independen secara berkala,” urai Thobib. (rom)