Podorukun Group Catat Penjualan KPR Non-Subsidi Tertinggi di Malang Raya

Podorukun Group Catat Penjualan KPR Non-Subsidi Tertinggi di Malang Raya

KOTA MALANG,BANGSAONLINE.com - Komitmen menyediakan hunian terjangkau mengantarkan Podorukun Group meraih pengakuan di tingkat nasional.

Pengembang yang dikenal aktif membangun rumah bagi masyarakat kategori menengah ini dinobatkan sebagai pengembang dengan penjualan terbanyak untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) non-subsidi dari Bank Syariah Nasional (BSN) sepanjang 2025.

Podorukun Group yang dipimpin H.M. Mudhofar ST dan Doni Ganatha ST menempati posisi sebagai pengembang dengan realisasi KPR non-subsidi tertinggi di wilayah Malang Raya.

Capaian tersebut sekaligus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap hunian non-subsidi yang ditawarkan melalui skema pembiayaan syariah.

Prestasi itu diraih di tengah dinamika pasar properti yang tidak sepenuhnya mudah.

Pada 2025, pemerintah memberikan stimulus Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi pembelian rumah dengan harga maksimal Rp.5 miliar.

Insentif tersebut berlaku sebesar 100 persen pada Januari hingga Juni.

Kebijakan itu kemudian dilanjutkan sebesar 50 persen pada Juli hingga Desember.

Stimulus tersebut menjadi salah satu pendorong transaksi di sektor perumahan.

Kondisi ini juga turut mendorong penjualan pada segmen rumah non-subsidi.

Owner Podorukun Group, H.M. Mudhofar, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk kepercayaan konsumen terhadap produk hunian yang dikembangkan perusahaannya.

Ia menilai kolaborasi dengan BSN turut membantu masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang lebih aman dan transparan.

“Terima kasih atas kepercayaan para konsumen yang telah memilih Podorukun sebagai tempat terwujudnya perumahan impian. Kami akan terus berkomitmen menghadirkan rumah berkualitas dengan pembiayaan yang aman dan terpercaya,” ujar H.M. Mudhofar pada Senin (9/3/2026)

Mudhofar juga mengakui bahwa pasar rumah non-subsidi ke depan akan menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah perlambatan daya beli masyarakat kelas menengah.

Selain itu, biaya pembangunan juga meningkat akibat kenaikan harga material konstruksi.

Akses pembiayaan dari perbankan juga cenderung lebih selektif.Kondisi tersebut membuat proses pengajuan KPR menjadi lebih ketat.

Di sisi lain, Doni Ganatha ST mengatakan, bahwa pengembang juga harus berhadapan dengan tantangan biaya lahan yang semakin tinggi serta suku bunga kredit perumahan yang masih menjadi pertimbangan bagi calon pembeli.

Faktor-faktor ini dinilai dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan membeli rumah, khususnya pada segmen non-subsidi.

Menghadapi situasi tersebut, Podorukun menyiapkan sejumlah strategi agar pasar tetap bergerak. Salah satunya dengan menjaga kualitas pembangunan sekaligus menyesuaikan konsep hunian dengan kebutuhan masyarakat kelas menengah yang kini lebih selektif dalam memilih rumah.

"Perusahaan juga terus memperkuat kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah agar skema pembiayaan menjadi lebih fleksibel dan terjangkau bagi konsumen" ujarnya

Menurut Doni kepercayaan konsumen menjadi faktor utama yang harus dijaga dalam industri properti. (dad/van)