M. Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline
Bagi negara atau pemerintah, ibadah haji jelas sangat berdampak positif dan signifikan. Terutama terhadap fiskal dan perekonomian negara. Dana yang dikelola secara optimal dan perputaran uang selama musim haji pasti memperkuat ruang fiskal serta mendorong pertumbuhan ekonomi makro.
Seperti disampaikan para analis, dampak positif ibadah haji terhadap fiskal dan ekonomi meliputi berbagai sektor. Antara lain Optimalisasi Dana Abadi Umat: Dana setoran awal perjalanan ibadah haji dikelola dan diinvestasikan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Hasil investasi itu jelas memperbesar ruang fiskal dan memberikan nilai manfaat yang digunakan untuk subsidi biaya operasional jemaah serta mendukung program sosial.
Jadi, penyelenggaraan haji juga meningkatkan pendapatan negara melalui berbagai sektor jasa dan produksi, termasuk penerimaan pajak dan devisa dari ekosistem perjalanan ibadah haji. Terjadi transaksi ekonomi yang masif: mulai dari pendaftaran, manasik, hingga keberangkatan jemaah—menggerakkan sektor transportasi, akomodasi, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sehingga menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Begitu juga dari segi visa. Semua negara di dunia merasakan manfaat sistem visa berkat penyelenggaraan ibadah haji. Manfaat itu mencakup tata kelola imigrasi yang lebih terstruktur hingga peningkatan kerja sama bilateral dalam penerbitan dokumen perjalanan.
Begitu juga bagi sektor swasta. Penuh berkah. Ambil contoh sederhana soal maskapai. Yaitu perusahaan atau perseroan dagang yang bergerak di bidang penyediaan jasa transportasi untuk mengangkut penumpang atau barang. Pesawat terbang, misalnya. Maskapai itu umumnya bukan milik umat Islam. Tapi milik non muslim. Namun pada musim haji pemilik maskapai dan para karyawannya mendapat “berkah” luar biasa dari rukun Islam ke-5 itu. Sedemikian besarnya “berkah” haji dan Idul Adha sampai para pemilik maskapai itu memoles pramugarinya dengan busana muslimah demi “adaptasi” sekaligus “mengambil hati” umat Islam. Dan itu terjadi pada semua maskapai di seluruh dunia, terutama negara-negara yang ada penduduk Muslim.
Belum lagi para pengusaha atau penjual kain ihram, mukenah, sabuk ihram, sandal, sajadah, baju koko, dan asesoris haji lainnya. Berbagai pakaian dan asesoris haji itu tidak hanya diproduksi oleh umat Islam. Tapi juga – bahkan sebagian besar – diproduksi oleh umat non muslim. Terutama China.
Alhasil, revolusi sosial ekonomi Idul Adha sangat dahsyat dan luar biasa. Dan itulah salah satu kontribusi nyata ajaran Islam atau ritual Islam terhadap pengembangan sosial ekonomi dunia. Terutama kemanusiaan. Karena itu sangat pas jika Islam merupakan ajaran rahmatan lil’alamin. Artinya, Islam tidak hanya bermanfaa secara eksklusif bagi umat Islam tapi secara inklusif bermanfaat kepada seluruh alam semesta, termasuk umat non muslim. Bahkan kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan sekali pun.
Ini semua berkat peristiwa besar sejarah ketulusan, pengorbanan dan ketaatan mutlak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimaassalam terhadap Allah SWT. Wallahua’lam bisshawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




