Ilustrasi: Indonesia.id
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Politik Indonesia diwarnai kosakata baru: menjilat. Tren politik ini menarik. Terutama dalam era digital. Maklum, aksi menjilat itu bisa dilakukan siapa saja dan kapan saja. Tak aneh jika politik menjilat itu riuh di media sosial.
Secara leksikal – terutama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) - menjilat berasal dari kata dasar jilat. Kata ini memiliki banyak makna utama. Antara lain juluran lidah. Yaitu menjulurkan lidah untuk merasai atau mencolet (contoh: anjing menjilat kaki tuannya).
BACA JUGA:
- Eks Danjen Kopassus: Luhut Rakus, Penjilat, Pernah Sindir Prabowo Tentara Dipecat Mau Jadi Presiden
- Pilkada Sidoarajo, BHS Masuk Tim Pemenangan Subandi-Mimik, Adam Rusydi Jadi Ketua Tim
- PDIP Kota Blitar Mulai Persiapkan Penjaringan Pilkada 2024
- Jelang Pilkada 2024, Pj Bupati Lumajang Imbau ASN Jaga Stabilitas Politik
Menjilat juga berarti mencari muka. Ini kiasan untuk perbuatan yang dilakukan seseorang agar mendapat pujian, kenaikan pangkat atau uang. Jadi secara lughatan atau bahasa sudah jelas makna atau maksudnya.
Lalu bagaimana dalam pandangan Islam? Nabi Muhammad SAW bersabda: إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ
Artinya: Jika kalian melihat orang-orang yang memuji-muji (secara berlebihan), maka taburkanlah tanah ke wajah mereka." (HR Muslim).
Secara harfiah Hadits ini sangat keras melarang. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ini bisa bermakna majas (kiasan) untuk menyumbat mulut mereka atau menolaknya agar mereka berhenti, namun sebagian sahabat memahaminya secara harfiah.
Ini bukan berarti Islam melarang memuji seseorang. Pujian diperbolehkan, bahkan dianjurkan jika sesuai fakta, apalagi untuk memberi motivasi. Tapi jika pujian itu masuk kategori menjilat jelas dilarang karerna selain tak sesuai fakta juga membuat orang yang dipuji lupa diri, tidak sensitif terhadap keadaan sebenarnya. Bahkan menyebabkan ia sombong. Apalagi jika pujian itu diperuntukkan pemimpin, pejabat atau tokoh yang berpengaruh.
Hadits lain juga sangat keras melarang memuji secara berlebihan. Hadits itu diriwayatkan Abu Bakrah RA, bahwa ada seseorang yang memuji orang lain di hadapan Nabi SAW. Maka beliau bersabda, "Celaka kamu! Engkau telah memenggal leher sahabatmu!" Beliau mengulanginya beberapa kali lalu bersabda, "Jika salah seorang dari kalian harus memuji saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan, 'Aku menyangka dia seperti ini dan itu,' dan janganlah ia memastikan kebaikannya, karena yang mengetahui isi hati hanyalah Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Nabi Muhammad SAW sendiri menolak dipuji secara berlebihan. Nabi bersabda: "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'." (HR. Bukhari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




