Wamenkomdigi Sebut Perkembangan AI Tingkatkan Risiko Kejahatan Digital

Ringkasan Berita
  • Perkembangan AI yang pesat meningkatkan ancaman kejahatan digital, termasuk penggunaan deepfake untuk memanipulasi suara, gambar, dan video sehingga sulit dibedakan dengan konten asli.
  • AI telah berkembang melebihi fase generative AI menuju agentic AI dan teknologi baru, yang memunculkan realitas sintetik (synthetic reality) yang semakin menipu masyarakat awam.
  • Ketidaktahuan masyarakat tentang perkembangan AI dimanfaatkan pelaku kejahatan, menyebabkan maraknya kasus penipuan (scam) digital yang semakin sulit dideteksi.
  • Meski memberikan manfaat besar bagi berbagai sektor, kemajuan AI juga membutuhkan antisipasi terhadap risiko-risiko baru yang ditimbulkannya.

BANGSAONLINE.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menilai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berlangsung sangat pesat. Menurut dia, selain membawa kemudahan bagi masyarakat, kemajuan teknologi ini juga meningkatkan ancaman kejahatan digital.

Nezar menjelaskan, pemanfaatan AI dalam tindak kejahatan dapat menghasilkan konten palsu yang sulit dibedakan dengan konten asli. Ia mencontohkan penyalahgunaan teknologi deepfake yang mampu memanipulasi gambar maupun video. 

“Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru. Tampil dalam bentuk deepfake video yang dihasilkan oleh AI dengan sangat mulus,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Nezar menilai, perkembangan AI telah melampaui fase generative AI menuju agentic AI dan teknologi baru lainnya. Meski membawa manfaat besar bagi berbagai sektor, kemajuan tersebut juga memunculkan risiko baru yang perlu diantisipasi.

Ia menyebut hasil manipulasi berbasis AI kini berkembang menjadi ‘synthetic reality’ atau realitas sintetik, yang membuat masyarakat awam semakin sulit membedakan konten asli dengan rekayasa. 

“Awamnya masyarakat kita tentang perkembangan AI ini membuat banyak yang terkecoh. Itu sebabnya scam saat ini luar biasa,” pungkasnya. (rom)