SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau 2026. Sejumlah armada penyuplai air bersih telah disiagakan untuk didistribusikan ke desa-desa yang mulai dilanda kekeringan.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa penanganan krisis air bersih ini merupakan agenda rutin tahunan yang selalu menjadi prioritas pemerintah daerah. Agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan cepat, ia meminta seluruh kepala desa (kades) untuk proaktif memantau dan melaporkan kondisi wilayahnya masing-masing.
“Kepala desa harus responsif kalau ada daerah kekeringan. Karena pasti akan berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih. Selain itu juga akan berpengaruh terhadap pertanian,” tegas Bupati Fauzi, Senin (6/7/2026).
Sebagai landasan hukum penanganan, Pemkab telah resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026 melalui Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026. Status siaga ini berlaku selama enam bulan ke depan, dengan opsi perpanjangan atau penyesuaian tergantung dinamika di lapangan.
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati tersebut, tercatat ada 76 desa yang tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Sumenep yang masuk dalam zona rawan kekeringan. Pemerintah membagi wilayah terdampak ke dalam empat kategori tingkat keparahan.
Pertama kering kritis, di mana jarak permukiman warga ke sumber air terdekat mencapai lebih dari 3 kilometer, dengan ketersediaan air kurang dari 10 liter per orang. Wilayah kategori ini menjadi prioritas utama untuk menerima dropping air bersih.
Selanjutnya kering langka, yakni penduduk mulai kesulitan air karena jarak ke sumber air berkisar antara 500 meter hingga 3 kilometer.
Ketiga kering langka kritis, dan keempat kering langka terbatas.
Selain mengandalkan bantuan jangka pendek berupa pengiriman tangki air bersih, Pemkab Sumenep juga tengah menyiapkan solusi jangka panjang untuk memutus rantai krisis air tahunan ini.
“Pemkab Sumenep tentu saja terus mengupayakan, agar daerah-daerah yang mengalami kekeringan itu bisa terbantu. Tidak hanya dengan suplai air bersih, tapi juga dengan pengadaan air bersih melalui program pengeboran air bawah tanah untuk daerah-daerah yang memang memungkinkan,” pungkas Fauzi.










